Langsung ke konten utama

Berlayar dengan kapal KM. Labobar dari Balikpapan - Pantoloan - Bitung - Ternate (Part 2)

Selamat tinggal Pantoloan

Halooo. Kembali lagi pada postingan lanjutan pengalaman pergi berlayar naik kapal Labobar dari Balikpapan-Pantoloan-Bitung-Ternate bagian ke-2.

Bagi kalian yang belum membaca kisah ini di bagian ke-1 tentang awal mula kenapa aku memulai perjalanan ini? Silahkan klik link disini.

Setelah semua penumpang sudah naik keatas kapal. Tiba saatnya kapal Labobar ini melanjutkan pelayarannya lagi menuju pelabuhan berikutnya yaitu Bitung!

ohya sebagai informasi sekarang PT.Pelni menghapus layanan tiket kelas yang mendapat kamar. Semua dipukul rata menjadi kelas ekonomi. Hehehe aku sih senang-senang aja.

Saat kapal mulai menjauh dari Pantoloan maka aku dan teman-teman baru yang kukenal tadi saling bercerita lebih lanjut sepanjang perjalanan. 

Mulai dari pertanyaan basa-basi seperti nama siapa, asal darimana, mau kemana, tujuannya apa kesana, kerja apa dan pertanyaan-pertanyaan yang gak berbobot lainnya. Coba pertanyaannya tuh berbobot kayak : "eh kadar salinitas di perairan pantoloan ini berapa ya?" atau "Kecepatan angin saat ini berapa knot yaa?" atau bisa juga "Dengan kecepatan seperti ini kira-kira kita tiba jam berapa di pelabuhan selanjutnya?". hahhaa



Sampai tiba akhirnya masing-masing dari kami bercerita pengalaman yang menurutku seru!

Mulai dari Indra sosok pemuda berkulit gelap yang tinggal di Bitung yang ternyata dia sering pergi berlayar dari Bitung ke General Santos Filipina sebagai awak kru kapal. Ia bahkan pernah tinggal dalam waktu yang cukup lama di General Santos. Waaaaaaah langsung deh aku cerita lebih lanjut soal ini ke dia. Karena aku juga pengen pergi ke General Santos. Paling banter sih cuma ke Manila waktu aku ke Filipina dulu. 


Dia cerita soal pengalaman tinggal disana, soal bagaimana dia berjalan-jalan ke rumah masa kecil petinju terkenal Filipina bahkan dunia, Manny Pacquiao! Iyaap Pacman ini dulunya memang tinggal di General Santos dengan masa kecil yang sedih kisah hidupnya. Dimana dia akhirnya nekat pergi ke sasana tinju lokal dan juga pergi ke Manila untuk mengadu nasib sebagai petinju yang akhirnya membawa dia menjadi petinju yang tak hanya dicintai rakyat Filipina (simbol perjuangan rakyat kecil yang sukses berhasil keluar dari kemiskinan) tapi juga masyarakat dunia.

Setelah itu si Rasyid pun bercerita soal pengalamannya hidup dan tinggal di Jayapura Papua! Haaah jauhhhh bangeeet disana. Dan setelah mendengar cerita darinya dengan segera penilaianku tentang Papua berubah drastis. Awalnya kupikir Papua itu masih berupa hutan-hutan namun ternyata tidak! kota Jayapura benar-benar bagus dan megah! Hooooa terus dia juga cerita soal pengalamannya yang sering bolak-balik pergi ke Vanimo Papua Nugini untuk berdagang. Dia bercerita bagaimana dulu hampir tertahan di Papua Nugini karena nyaris terlambat untuk kembali masuk ke Indonesia! 

Iya kita bisa melintas ke Papua Nugini pada jam-jam yang sudah ditentukan dan harus kembali masuk ke wilayah Indonesia pada waktu yang telah ditetapkan. Ia bercerita bagaimana ia bertransaksi dengan mata uang Papua Nugini yaitu Kina dan bagaimana ternyata rakyat Papua Nugini ternyata ramah dan sopan. Dan juga ternyata bahasa di Papua Nugini dan Papua Indonesia juga berbeda. 

Sore-sore swafoto bersama teman seperjalanan. Indra (baju biru) & Rasyid (baju merah muda)


Bener-bener membuka cakrawala pengetahuan baru gak sih dari obrolan semacam ini yang tidak akan pernah bisa kudapatkan ketika sekolah dulu?  

Mereka berdua baik Indra dan Rasyid menawarkan "Kabari yaaa kalau kamu lagi ada di Bitung atau Jayapura nanti kami ajak jalan-jalan" dan lebih khusus lagi aku makin girang waktu ditawari "ayo menjelajah ke Vanimo Papua Nugini" Haaaaaaaaaaaa!!!! Maaaaaaau banget. Suatu saat lah yaa pasti nanti aku akan masuk kesana.

Ohya tak hanya ngobrol dengan teman-teman baru tadi aku juga mencoba mencari teman bicara lainnya. Gak cuma anak muda yang sudah bapak-bapak juga aku ajak ngobrol kok walaupun cuma simpel. Atau bahkan sekedar melempar senyum ga ada salahnya juga kan?

Ada satu penumpang yang menarik perhatianku. Satu orang ini berciri fisik seperti saudara kita dari Papua tapi dengan ciri fisik yang agak berbeda seperti kulit yang ga terlalu gelap, rambut yang gak terlalu keriting dan warna bola matanya cokelat. Sepertinya sih blasteran. Apa ini yaa orang Papua yang ganteng atau cantik keturunan bangsa asing seperti yang aku sering dengar dari rekan kerja di kantor bahwa ada satu daerah di Papua dimana orang-orangnya berciri fisik seperti bangsa asing. Tinggi besar, kulit gak terlalu gelap dan warna matanya cokelat. Aku ga berani bertanya soal ini ke orang yang aku temui itu. Takut dikira ga sopan hehe.

Penumpang bermata cokelat yang misterius.

Di anjungan kapal sendiri kalau sore banyak orang berkumpul untuk sekedar duduk dan menikmati mi instan, kopi, teh, rokok atau bahkan berfoto-foto. Yahh maklum ga ada hiburan lain kan?

Santai di sore hari.

Duduk santai dulu yaa disini.




Pemandangan seperti ini sudah biasa diatas kapal jadi jangan kaget yaaah.

Gak lama kemudian aku dengar pengumuman bahwa jatah makan malam sudah bisa diambil. Padahal sih itu masih sore dan belum gelap tapi disebutnya jatah makan malam.
 
Setelah ritual makan malam dan berbagi lauk-pauk ini selesai aku memilih menghabiskan separuh malam dianjungan kapal. Menikmati desiran angin malam dan kesendirian (halah!). Capek duduk-duduk dan kedinginan karena angin malam aku memilih pergi ke orkes organ tunggal di kafe. Gratis kok kalau mau liat paling hanya beli minuman aja. Dan iyaah wajib berperilaku sopan yaa selama nonton organ tunggal ini. Harus pakai celana panjang, sepatu dan baju berkerah loh (menurut pengumuman dari pengeras suara).

Hiburan sih ini organ tunggal. Yang penting jaga kesopanan ya


Diatas kapal ada kok gerai Pelni Mart yaah semacam toko yang menjual air minum, panganan snack dan sebagainya lah ya jadi jangan takut kelaparan atau kehausan yaa tapi yaa gitu harganya tentu aja lebih mahal beb mahaaaal.


Besok paginya aku pilih untuk keliling lorong-lorong yang keliatannya menarik untuk dijelajahi dan iyaaa aku menemukan jalan lorong untuk ke klinik. Hehehe rupanya ada klinik yaa di atas kapal. Aku baru tahu loh. Lorong menuju klinik ini agak tertutup dan tentunya sepi dari penumpang-penumpang lainnya. Agak sedikit takut sih kalau dipergoki awak kapal karena aku main masuk-masuk aja kesitu. haha tapi namanya juga penasaran ya gimana dongggg. Bodo laaah kalau ditegur dan dimarahin yauda sih tinggal bilang aja "maap paak penasaran" hihi. Untungya lorong itu lagi sepi dan yaudah aku langsung balik aja karena ga ada apa-apa yang bisa dilihat kok.

Itu tuh pintu kliniknya, menyelinap masuk kedalam lorong-lorong tak bernama seru kan.

Suatu foto desa tua di daerah Maluku terpasang di gang menuju klinik Km. Labobar


Masih di dalam lorong menuju klinik Km.Labobar


Di kapal Labobar ini banyak kok dekoratif maupun lukisan di dinding kapal yang bertema nusantara banget.
Lukisan di dinding KM. Labobar
Suasana dalam kapal

Menu makanan yang dijual diatas Km. Labobar.


Ohya dikapal ini juga ada loh fasilitas mainan untuk anak-anak kecil seperti perosotan. Nah loo keren kaaan sekarang Pelni.
Ada juga kok ruangan bermain untuk anak-anak kecil

Dikapal ini juga ternyata sambil berlayar juga tetap dilakukan perawatan oleh kru kapal. Waktu itu aku liat ada perbaikan di sisi samping anjungan yang mengharuskan daerah itu ditutup dulu untuk sementara karena lagi ada pekerjaan perbaikan.

Eh ternyata Km.Labobar juga sembari berlayar tetap dilakukan perawatan lohhh. Kereeen.

Penyimpanan Acetylene.

Ketika mendekati kota Manado kita akan melihat patung Yesus dari atas kapal. Patung ini berada di selat lembeh. Jadi kalau kita udah liat patung ini itu artinya tak lama lagi kita akan tiba di Bitung.

Sore hari dan hampir tiba di Selat Lembeh (mendekati Pelabuhan Bitung).

Dari kejauhan nampak patung Yesus di Selat Lembeh, ikonik sih ini.

Suasana kota Manado dari atas kapal, hampir gelap nih.

Dan bener aja tak lama kemudian beberapa jam setelahnya kapal mendekati pelabuhan Bitung. Yeaaaay! Aku senang sudah hampir tiba di Bitung. Tak lama setelah kapal sandar aku pun berpamitan dengan teman gereja Papa dari Samarinda yang akan turun di sini.

Bertemu dengan teman Papa dari Kota Samarinda yang turun di Bitung

Kapal Labobar ini tiba pada malam hari di pelabuhan Bitung dan senangnya lagi ternyata kapal akan sandar di Bitung selama tiga jam! Horeee sempat nih jalan agak lama di sekitaran pelabuhan Bitung... Yoooi men ayok kita menjelajah sekitar pelabuhan sekaligus cari makan malam. Bosan lah yaaa makanan jatah diatas kapal yang itu-itu aja. Hehe
Seperti biasa kapal pemandu akan membantu Km. Labobar jika hendak sandar di Pelabuhan Bitung.


Kota Bitung sih sebenarnya ga ada bedanya dengan kota-kota lainnya. Dan setelah makan malam disebuah warung kaki lima kami pun bergegas kembali ke pelabuhan dan dengan demikian itu artinya kami berpisah dengan si Indra. Yaa dia turun disini. Sampai jumpa lagi dilain kesempatan ya.


Jalan bentar di sekitaran Bitung boleh kaaaaan?


Pelabuhan Bitung di Malam Hari

Ketika sudah diatas kapal aku memilih tidur untuk menghabiskan waktu karena besoknya kapal akan tiba di Ternate! Beruntung lagi tidak ada penumpang baru diarea tempat tidur kami. Jadi aku bisa tidur dengan tenang. Hehe.

Esoknya entah kenapa aku sudah bangun pagi-pagi buta dan langsung beranjak mandi. Benar saja ternyata tak lama lagi kapal akan tiba dan sandar di pelabuhan Ternate!

Pagi hari dan hampir tiba di Ternate.

Penumpang pada antusias melihat Ternate.

Wahh ga karuan rasanya antara seperti gak percaya akan tiba di Ternate dan iyaah rasanya campur aduk antara senang akan tiba, takut nanti bakalan seperti apa, sedih karena akan berpisah dengan teman baru diatas kapal dan iyaa perasaan ini makin gak karuan begitu kapal sandar sempurna di pelabuhan Ternate!

Gunung Gamalama dan Kota Ternate sudah didepan mata guysss!.


Kapal Labobar bersiap sandar di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate.

Penumpang yang akan naik sudah pada berkumpul.

Buruh bagasi berebut naik Km. Labobar


Barang sudah dikemas-kemasi dan siap untuk turun. Aku pun memberikan stok cemilan dan makanan yang masih tersisa untuk mereka teman-teman baruku yang memang masih akan berlayar beberapa hari kedepan menuju Jayapura.

Aku berpamitan dengan mereka dan juga tak lupa saling bertukar nomor kontak. 
Segera aku pun berbaur dan hilang ditelan rombongan penumpang yang memang turun di pelabuhan Ternate ini.


Hopp! Aku menjejakkan kaki di Ternate setelah perjalanan berhari-hari dilaut dan upsss aku ga sengaja menyenggol kepala orang lain dengan barang kardus bawaanku. Hihihi maap yaa mas ga sengaja.

Bye Km. Labobar, Bye teman-teman seperjalanan.

Air lautnya bening yah.

Wahh ada TPS Limbah B3-nya kereeen yah.

Pelabuhan Ahmad Yani Ternate ini gak terlalu besar gedung untuk penumpangnya. Yahh tetap lebih bagus bangunan pelabuhan Semayang Balikpapan dong.

Bapak-bapak penjaga di pelabuhan Ahmad Yani Ternate

Halo Ternate! Aku tiba.



Oya ada banyak pelabuhan di Ternate ini. Yang aku tahu :

1. Pelabuhan Ahmad Yani (untuk kapal penumpang Pelni dan kapal kargo lainnya).
2. Pelabuhan Speedboat Dufa-Dufa (aku menyebrang ke Jailolo berangkatnya dari sini).
3. Pelabuhan Bastiong (pelabuhan kapal ferry dari Ternate ke Sofifi ibukota provinsi Maluku Utara)

Mohon maaf kalau ada salah dan kalau ada kekurangan pelabuhan lainnya lagi mohon dibantu yaaa ditambahkan. hehehe.

Sejenak ambil foto boleh khaaan?

Ternate aku sudah datang!







Gambar tambahan. hehe
Menu makan siang selalu dapat jus dan air mineral kemasan.


Diagram alir ketika terjadi keadaan darurat diatas kapal.

Dunia memang luas yaah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berlayar dengan kapal KM. Labobar dari Balikpapan - Pantoloan - Bitung - Ternate (Part 1)

Pelabuhan Semayang Balikpapan Hai semuanya kali ini aku menulis tentang pengalamanku ketika pergi berlayar menuju Ternate dari kotaku Balikpapan dengan kapal KM Labobar Lah kok bisa ya naik kapal? emang liburnya berapa lama? terus kok bisa pas jadwal libur dengan jadwal kapal? Hehe akan kuceritakan asal muasal kenapa aku bisa pergi liburan dengan berlayar bersama KM. Labobar. Jadi pada akhir Januari 2019 itu aku sudah bisa libur selama 14 hari kalender (2 minggu).  Bingung kan mau libur pergi kemana. Mau pulang ke Samarinda ah terlalu sering dan sudah biasa. Gak perlu nunggu libur panjang kan aku bisa pulang ke Samarinda. Terus cek-cek lagi jadwal ke Bongao, Tawi-Tawi (Filipina) via Sandakan Malaysia kok menarik yaaa.. eh gak taunya dekat hari libur tiba-tiba di berita muncul kabar bahwa di daerah Sandakan khususnya Filipina bagian selatan lagi ricuh akibat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Filipina. Ada pengeboman rumah ibadah s

Baju Barong Tagalog Pakaian Tradisional Pria Filipina

Barong Tagalog, pakaian pria nasional di Filipina. Sejarah :  Saat pendudukan lebih dari 300 tahun oleh Spanyol di Filipina (1561-1889) penduduk pria lokal Filipina wajib memakai baju yang sekarang dinamakan Barong Tagalog.  Barong Tagalog adalah baju pria berkerah yang tidak dimasukkan kedalam celana, tidak berkantung juga transparan / tembus pandang.  Baju ini dimaksudkan untuk mencegah orang Filipina menyembunyikan sesuatu dalam kantong bajunya, entah barang curian atau senjata tajam. Spanyol mewajibkan pemakaian baju ini kepada semua orang Filipina tanpa peduli tingginya jabatan mereka di masyarakat guna menunjukkan perbedaan antara orang Spanyol yang kaya raya dengan penduduk miskin Filipina.  Setelah Filipina merdeka, presiden mereka Manuel Quezon mempopulerkan pemakaian baju ini. Sebelumnya baju ini identik dengan kelas bawah. Ketika dipopulerkan oleh presiden dengan cara selalu memakai baju ini pada acara resmi kenegaraan maka baju ini pun semaki

Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo, Halmahera Barat, Maluku Utara

Setelah lewat hutan-hutan eh tiba-tiba langsung disuguhi pemandangan seperti ini. Hai semua. Ketemu lagi pada postingan baru ini. Jadi ceritanya tuh waktu liburan di Jailolo di Halmahera Barat selama beberapa hari aku lanjut lagi ke kota Tobelo di Halmahera Utara. Aksesnya kalau dari Jailolo cuma bisa lewat darat.  Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo ditempuh selama empat jam. Hehehe. Kalo kata warga lokal sih itu lama banget yah perjalanan darat itu tapi kalo buatku sih oke-oke aja. Malah gak kerasa lama tuh mungkin karena baru pertama kali menempun jalan darat kali ya. Jalan raya sudah sangat bagus loh. Lebar dan beraspal. Jalanan cukup lengang. Aspal mulus dan tidak bolong-bolong. Udara juga masih segar namun sayangnya belum terpasang fasilitas lampu jalan disisi kiri dan kanan jalan. Waktu itu aku naik mobil travel dari Jailolo ke Tobelo dan kebetulan supir travelnya ya tetangga sendiri dirumah Jailolo jadi ga takut ketinggalan mobil. Ohya satu lagi