Langsung ke konten utama

Gereja KM 45 Utuslah Roh KudusMu Tuhan, Samboja Kutai Kartanegara KALTIM


Sesaat sebelum misa dimulai.

Pelayanan gereja ke daerah yang sepi?
Kenapa tidak.


Saya lebih menganggapnya pelayanan rasa piknik.
Yah selain ikut merayakan misa bersama warga disana sekaligus saya menganggapnya piknik bersama. Bagaimana tidak, ketika berada di kota pastinya jenuh dengan rutinitas.

Sehingga pelayanan ke daerah yang sepi dan jauh dari kota merupakan bentuk penyegaran rohani. Yap, semua anggota paduan suara kami rela jauh-jauh hari mengatur sedemikian rupa agar jadwal yang ada jangan sampai bertabrakan dengan tugas pelayanan ini.

Perjalanan ini sendiri berjarak 45 km dari kota Balikpapan dan berada di daerah Samboja, Kutai Kartanegara Kaltim. Tepatnya berada di pinggir jalan poros antara kota Balikpapan-Samarinda.

Terletak diatas bukit dan dikelilingi hutan yang masih asri sehingga menambah kesan yang asik untuk didatangi. 

Jadilah kami para anak-anak muda generasi bangsa bersiap untuk berangkat ketika hari H tiba.
Sesaat sebelum berangkat.

Kebetulan secara garis besar anggota kami ini terbagi wilayah berdasarkan tempat tinggal, ada yang berada di daerah Balikpapan Barat (Paroki Dahor) dan Balikpapan Timur (Paroki Sepinggan) serta beberapa dari kami masuk daerah Balikpapan Tengah (Paroki Prapatan).
Pindah mobil karena kepenuhan muatan.

Duh kejedug pintu mobil, kesiaaan.

Telah ditentukan keberangkatan nanti akan dibagi berdasarkan wilayah Dahor dan Sepinggan sehingga mereka yang berada di wilayah tersebut harus berkumpul di tempat yang telah disepakati.

Hehe. Maklum hanya ada 2 mobil dari kami yang tersedia. Karena untuk naik motor pun dirasa kurang praktis apakagi saat hari H cuaca sedang hujan. Sendu, kelabu gitu deh.


Perjalanan hanya memakan waktu antara 45-60 menit saja kok. 


Tiba disana kami disambut anak-anak kecil yang asik bermain bersama pembina mereka. 
Anak-anak kecil asik bermain.


Seperti biasa sebelum memulai misa kami pemanasan suara dulu agar dapat menampilkan yang terbaik tentunya.
Pemanasan suara itu perlu dan penting.

Suasana asri sungguh terasa disini. Banyak pepohonan rindang dan hijau sejauh mata memandang. Lumayan menghibur bagiku sih.

Gereja ini sungguh unik dengan tampilan yang tidak biasa. Memiliki banyak pintu masuk, banyak ornamen yang mencuri perhatian, banyak ukiran pahatan yang juga keren abis dan banyak sekali doa Salam Maria dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia maupun dunia!


 
Setelah misa selesai kami pun bergegas menyebrang jalan menuju tempat gua Maria dan tempat Jalan Salib berada. 

Di seberang gereja adalah Gua Maria.

Kami berjalan kaki sebentar tak sampai 5 menit dan sampailah kami di Gua Maria tersebut. Saat hening dimulai. Masing-masing dari kami asyik berdoa dalam keheningan doa bersama ibu Maria.
Ayo buruan jalannya.

Tiba di Gua Maria.

Patung ibu Maria & Yesus diukir dari kayu.


Lega rasanya pelayanan hari itu telah selesai dan tibalah saatnya kami pulang kembali ke Balikpapan.





Salah satu sudut yang keren.

Salah satu ukiran pahatan di dinding.

Doa Salam Maria dalam bahasa Batak Toba.

Doa Salam Maria dalam aksara Hanacaraka.

Doa Salam Maria dalam aksara Khmer, Kamboja.

Doa Salam Maria dalam aksara Hangul Korea.

Doa Salam Maria dalam bahasa Perancis.

Maria Fatima.

Setiap sudut gereja memiliki sudut apik untuk difoto.

Salah satu batu yang berasal dari Palestina ditanam pada dinding gereja.

Bergandengan tangan.

Di depan pintu masuk utama gereja.

Bahagia kan kami?


Perempuan yang paling cerewet.

Oom oom numpang ke depan dong.

Gembira dapat tumpangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berlayar dengan kapal KM. Labobar dari Balikpapan - Pantoloan - Bitung - Ternate (Part 1)

Pelabuhan Semayang Balikpapan Hai semuanya kali ini aku menulis tentang pengalamanku ketika pergi berlayar menuju Ternate dari kotaku Balikpapan dengan kapal KM Labobar Lah kok bisa ya naik kapal? emang liburnya berapa lama? terus kok bisa pas jadwal libur dengan jadwal kapal? Hehe akan kuceritakan asal muasal kenapa aku bisa pergi liburan dengan berlayar bersama KM. Labobar. Jadi pada akhir Januari 2019 itu aku sudah bisa libur selama 14 hari kalender (2 minggu).  Bingung kan mau libur pergi kemana. Mau pulang ke Samarinda ah terlalu sering dan sudah biasa. Gak perlu nunggu libur panjang kan aku bisa pulang ke Samarinda. Terus cek-cek lagi jadwal ke Bongao, Tawi-Tawi (Filipina) via Sandakan Malaysia kok menarik yaaa.. eh gak taunya dekat hari libur tiba-tiba di berita muncul kabar bahwa di daerah Sandakan khususnya Filipina bagian selatan lagi ricuh akibat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Filipina. Ada pengeboman rumah ibadah s

Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo, Halmahera Barat, Maluku Utara

Setelah lewat hutan-hutan eh tiba-tiba langsung disuguhi pemandangan seperti ini. Hai semua. Ketemu lagi pada postingan baru ini. Jadi ceritanya tuh waktu liburan di Jailolo di Halmahera Barat selama beberapa hari aku lanjut lagi ke kota Tobelo di Halmahera Utara. Aksesnya kalau dari Jailolo cuma bisa lewat darat.  Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo ditempuh selama empat jam. Hehehe. Kalo kata warga lokal sih itu lama banget yah perjalanan darat itu tapi kalo buatku sih oke-oke aja. Malah gak kerasa lama tuh mungkin karena baru pertama kali menempun jalan darat kali ya. Jalan raya sudah sangat bagus loh. Lebar dan beraspal. Jalanan cukup lengang. Aspal mulus dan tidak bolong-bolong. Udara juga masih segar namun sayangnya belum terpasang fasilitas lampu jalan disisi kiri dan kanan jalan. Waktu itu aku naik mobil travel dari Jailolo ke Tobelo dan kebetulan supir travelnya ya tetangga sendiri dirumah Jailolo jadi ga takut ketinggalan mobil. Ohya satu lagi

Baju Barong Tagalog Pakaian Tradisional Pria Filipina

Barong Tagalog, pakaian pria nasional di Filipina. Sejarah :  Saat pendudukan lebih dari 300 tahun oleh Spanyol di Filipina (1561-1889) penduduk pria lokal Filipina wajib memakai baju yang sekarang dinamakan Barong Tagalog.  Barong Tagalog adalah baju pria berkerah yang tidak dimasukkan kedalam celana, tidak berkantung juga transparan / tembus pandang.  Baju ini dimaksudkan untuk mencegah orang Filipina menyembunyikan sesuatu dalam kantong bajunya, entah barang curian atau senjata tajam. Spanyol mewajibkan pemakaian baju ini kepada semua orang Filipina tanpa peduli tingginya jabatan mereka di masyarakat guna menunjukkan perbedaan antara orang Spanyol yang kaya raya dengan penduduk miskin Filipina.  Setelah Filipina merdeka, presiden mereka Manuel Quezon mempopulerkan pemakaian baju ini. Sebelumnya baju ini identik dengan kelas bawah. Ketika dipopulerkan oleh presiden dengan cara selalu memakai baju ini pada acara resmi kenegaraan maka baju ini pun semaki