Teluk Bayur di Berau Kaltim dahulu memang berjaya dengan industri pertambangan Batu Bara yang dikelola oleh Steenkolen sebuah perusahaan pertambangan Batu Bara milik Belanda.
Tentu dalam aktifitas pertambangan Batu Bara-nya meninggalkan jejak bukti sejarah keberadaan cerita itu.
Selain bukti kehidupan masyarakat Belanda di alun-alun lapangan Teluk Bayur, terdapat juga bukti kematian masyarakat Belanda di Teluk Bayur.
Makam atau kuburan Belanda beberapa masih tersisa dan dapat dilihat hingga sekarang di tahun 2026.
Minimnya arsip kesejarahan tentang jejak kolonialisme Belanda di Teluk Bayur Berau membuat saya kebingungan untuk mencari petunjuk dalam menggali informasi terkait kejayaan industri Batu Bara jaman Kolonialisme Belanda.
Awalnya saya bisa dibilang kebetulan menemukan kuburan Belanda ini.
Saat saya berada di sekitar Teluk Bayur Berau, saya kebingungan akan arah dan saya buka aplikasi Googlemaps tanpa sengaja saya menemukan sebuah lokasi bertuliskan "Kuburan Belanda".
Seseorang pernah menambahkan tempat "Kuburan Belanda" ke dalam Googlemaps dan ada sedikit sekali foto yang dipost pada lokasi itu.
Berbekal panduan dari Googlemaps sampai pula saya ke tempat yang bernama "Kuburan Belanda".
Letaknya tersembunyi berada di belakang barisan rumah-rumah warga, masuk ke dalam gang dan berada persis di atas bukit.
Rupanya bukit itu diubah fungsi menjadi tempat pemakamam umum.
Saya bingung harus mencari dimana letak makam Belanda ini. Tidak ada tanda-tanda berupa papan petunjuk atau informasi mengenai situs Makam Belanda Teluk Bayur.
Berbekal nekat karena sudah sampai disini saya pun mencari sendiri berjalan kaki menyusuri makam.
Saya mulai mencari dari titik tertinggi area pemakaman umum ini, dengan logika kalau dari letak yang tinggi maka kita dapat melihat keseluruh area pemakaman umum yang berada di lokasi bawah.
Rupanya pilihan saya benar. Makam Belanda hanya berjarak beberapa langkah dari saya.
Bentuk makam khas dengan ukuran yang besar dan nampak sebilah Salib merupakan tanda visual dari kuburan Belanda ini.
Sambil permisi melewati makam-makam (bentuk kearifan lokal Indonesia, jangan lupa permisi numpang lewat ketika berjalan diantara makam).
Beberapa makam nampak terlihat mulai rusak, seperti beton makam mulai ambrol, beberapa makam tidak ada nisannya, dan sudah mulai ditumbuhi tumbuhan liar, dan beberapa makam juga ada yang masih dalam kondisi baik.
Ada juga nampak nisan yang berbahasa Indonesia dalam deret kuburan Belanda ini. Kalau dilihat dari nama mendiang sepertinya berasal dari Manado Sulawesi Utara. Family name / Marganya memang berasal dari Manado.
Dan memang sesuai kebiasan warga Belanda di jaman kolonialisme mereka sering membawa warga dari Ambon atau Manado ke daerah lain seperti ke Balikpapan, Tarakan, dan Teluk Bayur Berau untuk dipekerjakan.
Bukti keberadaan warga Manado di Teluk Bayur pada masa kolonialisme Belanda dipertegas dengan adanya papan nama jalan "Kampung Manado" di Teluk Bayur Berau.
Dahulu sepertinya di ruas jalan "Kampung Manado" ini bermukim warga pekerja yang berasal dari Manado.
Bukti bahwa sejak dahulu masyarakat Berau di Teluk Bayur sudah terbiasa dengan keberagaman suku.
![]() |
| Makam ukuran kecil, mungkin ini makam anak-anak |
![]() |
| Beberapa makam yang kondisinya mulai rusak |
![]() |
| Tahun pada nisan bertuliskan angka 1947 |
![]() |
| Sebuah salib terdapat pada makam Belanda |
![]() |
| Salah satu makam yang kondisinya masih bagus |
![]() |
| Posisi makam Belanda berada di atas bukit dan menjadi satu dengan pemakaman Teluk Bayur Berau |
![]() |
| Kondisi makam mulai rusak |
![]() |
| Dari makam ini terlihat Teluk Bayur Berau dibawah sana. |














Komentar
Posting Komentar