Langsung ke konten utama

17 Gajah, pentas seni Nusantara.

Haaaaai selamat siang semuanya, salam sejahtera bagi kita semua.


Kali ini saya akan menceritakan sebuah acara pentas seni pada sebuah perusahaan oil & gas di kota Balikpapan, semua talent kebanyakan berasal dari karyawan, keluarga karyawan, maupun pihak luar perusahaan. Merupakan mahakarya pertunjukkan kesenian daerah yang dikemas secara apik dengan mengikuti alur cerita yang mengesankan. Benar-benar kreatifitas tingkat tinggi karena semua materi, persiapan dan talent rata-rata dilengkapi secara swadaya. Butuh waktu latihan berbulan-bulan sebelum hari H. Saya sendiri pun awalnya sempat ditawari untuk ikut memeriahkan acara tesebut sebagai pemain angklung. Seru ya, sebenernya ingin sekali ikutan. Namun pada saat itu kesibukan pekerjaan yang membuat saya mengurungkan niat untuk ikut berlatih bareng tim angklung. 

17 gajah ini bercerita tentang seorang anak murid SD bernama Gading yang merupakan anak dari pasangan suami-istri yang menyukai tokoh wayang. Anak bernama Gading ini tinggal dan bersekolah di kota Balikpapan dan sedang dalam acara study tour bersama teman-teman dan guru SD-nya ke museum Wilwatikta di kota Mojokerto, Jawa Timur. Nah dalam museum ini, Gading dan teman-temannya di ajak keliling oleh penjaga museum dan diceritakan asal muasal kerajaan Majapahit yang dahulu paling berjaya di seluruh Nusantara serta merupakan kerajaan yang berhasil mempersatukan kerajaan kecil yang tersebar di seluruh Nusantara. Dalam museum tersebut terdapat berbagai patung miniatur pembesar-pembesar kerajaan Majapahit, patih para kerajaan, sepasang laki-laki dan perempuan berpakain khas kerajaan Majapahit dll.

si Gading ini terkesima akan sumpah Patih Gajah Mada yang akan mempersatukan Nusantara, dan diceritakan pula bahwa dulu rakyat Nusantara aman, sentosa, makmur dan berjaya, tidak ada kemiskinan, kesusahan, aman dan tentram. Namun mengapa Nusantara saat ini atau yang kita kenal sebagai Indonesia malahan tidak lagi berjaya seperti dahulu kala? Kesenjangan sosial dimana-mana, tidak semua anak bisa bersekolah, dsb. Jalan cerita ini seperti di film Night at the Museum, dimana ketika malam tiba, patung dan replika kerajaan Majapahit itu menjadi hidup dan disitulah letak keseruannya. Yang mana ketika semua replika menjadi hidup akan ada adegan sendra tari tradisional, gending gamelan, angklung, choir,  kolintang, gondang batak dll.

Cerita ini juga mengisahkan perjalanan sang anak bernama Gaading yang mengelilingi Indonesia dengan maksud untuk mencari perjanjian Gajah Mada yang asli, karena yang berada di dalam musem merupakan sebuah duplikat. Nah, perjalanan mengelilingi Indonesia ini ditampilkan dalam berbagai kesenian daerah seperti tarian, musik, nyanyian dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi bahkan Papua lohh. Hebat yaa.


Acara ini berada di luar ruangan, dengan panggung yang luas serta pencahayaan yang sangat apik menurut saya. Beruntung hari saat itu tidak hujan, padahal beberapa hari sebelum dan pada pagi hari di hari H sempat turun hujan deras. Acara ini sendiri diadakan pada malam minggu dan dimulai pada jam 19.00 hingga selesai. Ada banyak sekali pengunjung yang datang yang ingin menyaksikan kerabat, keluarga dan sahabatnya yang akan tampil pada pertunjukan malam itu. Berbagai cemilan disediakan oleh panitia seperti siomay, martabak asin manis, sate, kacang, teh, kopi dll. Saya sendiri merasa puas akan pertunjukkan ini yang mana seperti kita ketahui acara semacam ini jarang sekali diadakan dalam skala besar dan melibatkan banyak talent. Bahkan para petinggi perusahaan dan walikota Balikpapan juga turut memeriahkan acara sebagai salah satu penampil di acara ini. Benar-benar suatu bukti dukungan yag konkrit bukan.

Baiklah berikut adalah foto-foto yang saya abadikan, silahkan dinikmati.

Beberapa jam sebelum acara dimulai.

Keriuhan tim angklung sebelum acara mulai

Ayo berfoto dulu sebelum tampil.

Ludruk, kesenian Jawa Timur.

Si Pitung kecil, jawara betawi.

Panitia berseragam ala pemuda Bali, keren yahh.

Ini adalah anak-anak SD yang ikut tampil, keren kan.

Buka dulu topengmu ya.

Megahnya panggung pertunjukkan.

Laksmana Raja di Laut, aku suka sekali sama tarian Melayu.

Abang-abang Sumatra Utara menari Tortor, cakap kali kau bang.

Gadis-gadis Bali nampak ayu dengan seserahan yang dibawa.

Para petinggi perusahaan bersama pak walikota Balikpapan dibelakang panggung, menunggu giliran tampil.


Bli-bli Bali menari kecak, seru ya.


Sayang sayang si patokaan, ini dia noni-noni Sulawesi Utara sedang menari dengan sapu tangan diiringi musik Kolintang.

Wayang golek.

Penari dari tanah Papua.

Tarian Dayak dari Kalimantan.

Kemeriahan lampu panggung, uhh jangan berakhir dulu yaa.

Siluet penari diiringi lagu Melati Suci sesaat sebelum acara selesai.

Semua talent mari berkumpul untuk berfoto bersama.

Pemain Angklung sesaat setelah acara selesai.

Pemain Gamelan, berpakaian ala Bali, keren yah.


Seperti itulah keseruan acara pertunjukkan kesenian 17 Gajah yang tidak akan terlupa, sungguh menginspirasi bahwa Indonesia dikarunia berbagai keindahan dan keberagaman suku, bahasa dan adat-istiadat yang sayang sekali jika kita sebagai generasi sekarang mengabaikannya. 



Sampai jumpa lagi pada tulisan selanjutnya,



Terimakasih

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berlayar dengan kapal KM. Labobar dari Balikpapan - Pantoloan - Bitung - Ternate (Part 1)

Pelabuhan Semayang Balikpapan Hai semuanya kali ini aku menulis tentang pengalamanku ketika pergi berlayar menuju Ternate dari kotaku Balikpapan dengan kapal KM Labobar Lah kok bisa ya naik kapal? emang liburnya berapa lama? terus kok bisa pas jadwal libur dengan jadwal kapal? Hehe akan kuceritakan asal muasal kenapa aku bisa pergi liburan dengan berlayar bersama KM. Labobar. Jadi pada akhir Januari 2019 itu aku sudah bisa libur selama 14 hari kalender (2 minggu).  Bingung kan mau libur pergi kemana. Mau pulang ke Samarinda ah terlalu sering dan sudah biasa. Gak perlu nunggu libur panjang kan aku bisa pulang ke Samarinda. Terus cek-cek lagi jadwal ke Bongao, Tawi-Tawi (Filipina) via Sandakan Malaysia kok menarik yaaa.. eh gak taunya dekat hari libur tiba-tiba di berita muncul kabar bahwa di daerah Sandakan khususnya Filipina bagian selatan lagi ricuh akibat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Filipina. Ada pengeboman rumah ibadah s

Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo, Halmahera Barat, Maluku Utara

Setelah lewat hutan-hutan eh tiba-tiba langsung disuguhi pemandangan seperti ini. Hai semua. Ketemu lagi pada postingan baru ini. Jadi ceritanya tuh waktu liburan di Jailolo di Halmahera Barat selama beberapa hari aku lanjut lagi ke kota Tobelo di Halmahera Utara. Aksesnya kalau dari Jailolo cuma bisa lewat darat.  Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo ditempuh selama empat jam. Hehehe. Kalo kata warga lokal sih itu lama banget yah perjalanan darat itu tapi kalo buatku sih oke-oke aja. Malah gak kerasa lama tuh mungkin karena baru pertama kali menempun jalan darat kali ya. Jalan raya sudah sangat bagus loh. Lebar dan beraspal. Jalanan cukup lengang. Aspal mulus dan tidak bolong-bolong. Udara juga masih segar namun sayangnya belum terpasang fasilitas lampu jalan disisi kiri dan kanan jalan. Waktu itu aku naik mobil travel dari Jailolo ke Tobelo dan kebetulan supir travelnya ya tetangga sendiri dirumah Jailolo jadi ga takut ketinggalan mobil. Ohya satu lagi

Baju Barong Tagalog Pakaian Tradisional Pria Filipina

Barong Tagalog, pakaian pria nasional di Filipina. Sejarah :  Saat pendudukan lebih dari 300 tahun oleh Spanyol di Filipina (1561-1889) penduduk pria lokal Filipina wajib memakai baju yang sekarang dinamakan Barong Tagalog.  Barong Tagalog adalah baju pria berkerah yang tidak dimasukkan kedalam celana, tidak berkantung juga transparan / tembus pandang.  Baju ini dimaksudkan untuk mencegah orang Filipina menyembunyikan sesuatu dalam kantong bajunya, entah barang curian atau senjata tajam. Spanyol mewajibkan pemakaian baju ini kepada semua orang Filipina tanpa peduli tingginya jabatan mereka di masyarakat guna menunjukkan perbedaan antara orang Spanyol yang kaya raya dengan penduduk miskin Filipina.  Setelah Filipina merdeka, presiden mereka Manuel Quezon mempopulerkan pemakaian baju ini. Sebelumnya baju ini identik dengan kelas bawah. Ketika dipopulerkan oleh presiden dengan cara selalu memakai baju ini pada acara resmi kenegaraan maka baju ini pun semaki