Langsung ke konten utama

KRI Teluk Mandar 514


Selamat datang di KRI Teluk Mandar

KRI Teluk Mandar 514.

Sebuah kapal perang milik TNI-AL yang bertugas menjaga wilayah perairan Republik Indonesia dari gangguan keamanan pihak asing. Sungguh beruntung diriku mendapat kesempatan untuk melihat dari dekat dan menanyakan berbagai hal yang selama ini selalu menjadi teka-teki yang menimbulkan rasa penasaran. Yah namanya juga penasaran kan tidak ada obatnya selain mencari tahu langsung.

Dan..... rasa penasaran itu terjawab sudah. Aku mendapat kesempatan yang berharga untuk dapat naik keatas kapal perang ini dan langsung bertanya serangkaian hal yang membuatku penasaran. 

Secara sengaja disini aku tidak akan menceritakan pertanyaan-pertanyaan apa saja yang aku ajukan.



Helipad.


Tentara rupanya juga manusia kok dan tidak segalak, sejahat, se-menyeramkan seperti yang sering kudengar dulu waktu kecil. Mereka juga mahluk sosial yang senang sekali bercengkrama, bercerita dan juga memiliki sopan santun yang baik malah. Karena sering sekali berada di tengah laut dan berlayar makanya mereka sebenarnya senang sekali kalau bertemu manusia-manusia baru.

1979 buset saya belum lahir.

Ada beberapa petugas yang tetap berjaga dan ada pula petugas yang mungkin sedang tidak berdinas/piket sehingga berpakaian lebih santai dan asik duduk-duduk sambil ngopi dan merokok. 

Santai sore dulu.

Aku diajak naik untuk melihat dari dekat seperti apa ruang kemudi di dalam kapal.

Yapp. Tanpa basa-basi aku langsung minta ijin agar supaya dibolehkan untuk mengambil foto dan duduk di kursi "panas" alias kursi kapten kapal. Hehe. Kapan lagi kan? *oportunis
Merasakan duduk di kursi panas

 Berbeda dengan Angkatan Darat & Angkatan Udara, para mas-mas Angkatan Laut ini berseragam "Batik" alias seragam loreng-loreng yang berwarna biru keabu-abuan dan berbeda dari seragam loreng Angkatan Darat & Angkatan Udara.

Kegiatan mereka pun beragam ada yang sibuk menelpon, melakukan bersih-bersih kapal, santai, memelihara burung dan segenap aktivitas piket lainnya.

Dulu sekali aku bermimpi untuk dapat pergi berlayar seperti mereka. Menjaga perbatasan dan menyusuri kepulauan nyiur melambai.

Ya dulu sekali aku pernah berharap.



Untuk hal ini aku yakin takdir tidak pernah salah dalam memilih seorang pemain untuk sebuah peran didunia ini.

Terimakasih pak sudah berkenan menjawab serangkaian pertanyaan

Peranku mungkin bukan menjadi bagian dari mereka. Dan yakinlah ada sebuah peran dan plot cerita yang harus aku selesaikan diluar sana. 


Terimakasih untuk kesempatan ini yang aku pikir tidak akan mungkin terwujud.
Suatu sudut kapal.

Akhirnya rasa penasaranku sebagian telah berkurang dan tentu saja waktu adalah pemisahnya. 


KRI Teluk Mandar 514 kita telah berjodoh beberapa waktu yang lalu.


Kepiting, entah artinya apa ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berlayar dengan kapal KM. Labobar dari Balikpapan - Pantoloan - Bitung - Ternate (Part 1)

Pelabuhan Semayang Balikpapan Hai semuanya kali ini aku menulis tentang pengalamanku ketika pergi berlayar menuju Ternate dari kotaku Balikpapan dengan kapal KM Labobar Lah kok bisa ya naik kapal? emang liburnya berapa lama? terus kok bisa pas jadwal libur dengan jadwal kapal? Hehe akan kuceritakan asal muasal kenapa aku bisa pergi liburan dengan berlayar bersama KM. Labobar. Jadi pada akhir Januari 2019 itu aku sudah bisa libur selama 14 hari kalender (2 minggu).  Bingung kan mau libur pergi kemana. Mau pulang ke Samarinda ah terlalu sering dan sudah biasa. Gak perlu nunggu libur panjang kan aku bisa pulang ke Samarinda. Terus cek-cek lagi jadwal ke Bongao, Tawi-Tawi (Filipina) via Sandakan Malaysia kok menarik yaaa.. eh gak taunya dekat hari libur tiba-tiba di berita muncul kabar bahwa di daerah Sandakan khususnya Filipina bagian selatan lagi ricuh akibat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Filipina. Ada pengeboman rumah ibadah s

Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo, Halmahera Barat, Maluku Utara

Setelah lewat hutan-hutan eh tiba-tiba langsung disuguhi pemandangan seperti ini. Hai semua. Ketemu lagi pada postingan baru ini. Jadi ceritanya tuh waktu liburan di Jailolo di Halmahera Barat selama beberapa hari aku lanjut lagi ke kota Tobelo di Halmahera Utara. Aksesnya kalau dari Jailolo cuma bisa lewat darat.  Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo ditempuh selama empat jam. Hehehe. Kalo kata warga lokal sih itu lama banget yah perjalanan darat itu tapi kalo buatku sih oke-oke aja. Malah gak kerasa lama tuh mungkin karena baru pertama kali menempun jalan darat kali ya. Jalan raya sudah sangat bagus loh. Lebar dan beraspal. Jalanan cukup lengang. Aspal mulus dan tidak bolong-bolong. Udara juga masih segar namun sayangnya belum terpasang fasilitas lampu jalan disisi kiri dan kanan jalan. Waktu itu aku naik mobil travel dari Jailolo ke Tobelo dan kebetulan supir travelnya ya tetangga sendiri dirumah Jailolo jadi ga takut ketinggalan mobil. Ohya satu lagi

Baju Barong Tagalog Pakaian Tradisional Pria Filipina

Barong Tagalog, pakaian pria nasional di Filipina. Sejarah :  Saat pendudukan lebih dari 300 tahun oleh Spanyol di Filipina (1561-1889) penduduk pria lokal Filipina wajib memakai baju yang sekarang dinamakan Barong Tagalog.  Barong Tagalog adalah baju pria berkerah yang tidak dimasukkan kedalam celana, tidak berkantung juga transparan / tembus pandang.  Baju ini dimaksudkan untuk mencegah orang Filipina menyembunyikan sesuatu dalam kantong bajunya, entah barang curian atau senjata tajam. Spanyol mewajibkan pemakaian baju ini kepada semua orang Filipina tanpa peduli tingginya jabatan mereka di masyarakat guna menunjukkan perbedaan antara orang Spanyol yang kaya raya dengan penduduk miskin Filipina.  Setelah Filipina merdeka, presiden mereka Manuel Quezon mempopulerkan pemakaian baju ini. Sebelumnya baju ini identik dengan kelas bawah. Ketika dipopulerkan oleh presiden dengan cara selalu memakai baju ini pada acara resmi kenegaraan maka baju ini pun semaki