Langsung ke konten utama

Pena & Buku, komunitas berfaedah di Balikpapan

Narasumber sedang berbagi cerita.



Hah apa sih itu maksudnya Pena & Buku?



Jadi gini, berdasarkan apa yang aku baca  di sosmed mereka, Pena & Buku ini adalah sebuah kios ditengah-tengah pasar Klandasan Balikpapan yang isinya pojok untuk membaca dan meminjam buku.


Hah kook dipasar? 

Iya sengaja dipasar supaya anak-anak kecil yang hidup dan besar dipasar juga bisa menikmati indahnya membaca buku dari kecil kan?


Supaya generasi mendatang lebih melek dan memiliki kemauan yang tinggi untuk membaca. Daripada anak-anak tadi cuma bisa bermain gadget kan lebih baik dibimbing juga dalam hal literasi.



Naah selain itu juga pada suatu waktu Pena dan Buku mengundang berbagai narasumber dari kalangan manapun, profesi apapun dan komunitas manapun untuk berbagi cerita dan pengalaman secara sukarela loh!.

Mulai dari musisi, pengajar, dosen, mahasiswa, pekerja profesional, penulis dan pemerhati sosial semua pernah diundang untuk berbagi kisah inspiratif mereka.


Kebetulan aku memang sedang ingin mencari tahu tentang beasiswa dan saat itu ada acara sharing dari penerima beasiswa LPPD dan beasiswa dari luar negeri. Wuihhh aku kepengen juga ikutin jejak mereka. Emang bener, semuanya butuh pengorbanan yang tidak mudah dan pastinya menguras air mata juga.


Apa yang mereka bagikan mulai dari proses awal mendaftar, mengirimkan karya tulis, wawancara serta persiapan kepergian semuanya membuka lagi khayalan ketika duduk dibangku SMA dulu.


Melanjutkan pendidikan lagi salah satu cita-citaku. Suatu saat nanti pasti terjadi.

 
Dapet bingkisan ini, semoga menginspirasi kalian juga.



Mereka adalah bukti nyata bahwa tidak ada yang tidak mungkin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berlayar dengan kapal KM. Labobar dari Balikpapan - Pantoloan - Bitung - Ternate (Part 1)

Pelabuhan Semayang Balikpapan Hai semuanya kali ini aku menulis tentang pengalamanku ketika pergi berlayar menuju Ternate dari kotaku Balikpapan dengan kapal KM Labobar Lah kok bisa ya naik kapal? emang liburnya berapa lama? terus kok bisa pas jadwal libur dengan jadwal kapal? Hehe akan kuceritakan asal muasal kenapa aku bisa pergi liburan dengan berlayar bersama KM. Labobar. Jadi pada akhir Januari 2019 itu aku sudah bisa libur selama 14 hari kalender (2 minggu).  Bingung kan mau libur pergi kemana. Mau pulang ke Samarinda ah terlalu sering dan sudah biasa. Gak perlu nunggu libur panjang kan aku bisa pulang ke Samarinda. Terus cek-cek lagi jadwal ke Bongao, Tawi-Tawi (Filipina) via Sandakan Malaysia kok menarik yaaa.. eh gak taunya dekat hari libur tiba-tiba di berita muncul kabar bahwa di daerah Sandakan khususnya Filipina bagian selatan lagi ricuh akibat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Filipina. Ada pengeboman rumah ibadah s

Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo, Halmahera Barat, Maluku Utara

Setelah lewat hutan-hutan eh tiba-tiba langsung disuguhi pemandangan seperti ini. Hai semua. Ketemu lagi pada postingan baru ini. Jadi ceritanya tuh waktu liburan di Jailolo di Halmahera Barat selama beberapa hari aku lanjut lagi ke kota Tobelo di Halmahera Utara. Aksesnya kalau dari Jailolo cuma bisa lewat darat.  Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo ditempuh selama empat jam. Hehehe. Kalo kata warga lokal sih itu lama banget yah perjalanan darat itu tapi kalo buatku sih oke-oke aja. Malah gak kerasa lama tuh mungkin karena baru pertama kali menempun jalan darat kali ya. Jalan raya sudah sangat bagus loh. Lebar dan beraspal. Jalanan cukup lengang. Aspal mulus dan tidak bolong-bolong. Udara juga masih segar namun sayangnya belum terpasang fasilitas lampu jalan disisi kiri dan kanan jalan. Waktu itu aku naik mobil travel dari Jailolo ke Tobelo dan kebetulan supir travelnya ya tetangga sendiri dirumah Jailolo jadi ga takut ketinggalan mobil. Ohya satu lagi

Baju Barong Tagalog Pakaian Tradisional Pria Filipina

Barong Tagalog, pakaian pria nasional di Filipina. Sejarah :  Saat pendudukan lebih dari 300 tahun oleh Spanyol di Filipina (1561-1889) penduduk pria lokal Filipina wajib memakai baju yang sekarang dinamakan Barong Tagalog.  Barong Tagalog adalah baju pria berkerah yang tidak dimasukkan kedalam celana, tidak berkantung juga transparan / tembus pandang.  Baju ini dimaksudkan untuk mencegah orang Filipina menyembunyikan sesuatu dalam kantong bajunya, entah barang curian atau senjata tajam. Spanyol mewajibkan pemakaian baju ini kepada semua orang Filipina tanpa peduli tingginya jabatan mereka di masyarakat guna menunjukkan perbedaan antara orang Spanyol yang kaya raya dengan penduduk miskin Filipina.  Setelah Filipina merdeka, presiden mereka Manuel Quezon mempopulerkan pemakaian baju ini. Sebelumnya baju ini identik dengan kelas bawah. Ketika dipopulerkan oleh presiden dengan cara selalu memakai baju ini pada acara resmi kenegaraan maka baju ini pun semaki