Langsung ke konten utama

Jodipan Kampung Warna-Warni Kota Malang-Jatim.

Tiba di Stasiun Malang


Haaai semuanya ketemu lg di postingan ini.

Pernah waktu itu pas berada di Surabaya untuk waktu yang agak lama aku bingung mau jalan kemana. Sampai akhirnya aku putusin untuk pergi berjalan-jalan ke kota Malang!

Hehehe daripada penasaran akhirnya aku berangkat sendirian naik kereta dari Surabaya. Tiket kereta api tuh sekarang sangat mudah sekali dibeli. Bisa beli di web ataupun aplikasi penyedia tiket online. Tinggal pilih tanggal keberangkatan, pilih jam dan pilih kelasnya trus bayar deh pemesanannya.

Untungnya lagi di Kota Malang aku punya temen yg bisa kudatangi dan sekaligus bisa ngajak jalan-jalan. Sehari semalam aja sih aku di Kota Malang ini karena aku bingung mau main kemana. Theme-Park macam Jatim Park, Museum Angkut, dll sudah pernah kudatangi sih jadinya aku santai aja jalan-jalan di Malangnya.

Selain berfoto di alun-alunnya aku pergi juga ke kampung warna-warni Jodipan yang terletak persis di pinggir Kali Brantas (Sungai Brantas) yang mengalir dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Kampung ini dicat warna-warni yang cerah dan menarik hati. Semua sudut dikampung ini dihias sedemikian rupa dengan kreatifitas tinggi. Mulai dari jalan gang-gangnya, batu paving blocknya, dinding rumah, genteng, kusen pintu-jendela semua dihias mural. 

Sedikit cerita kampung ini dulunya termasuk daerah kumuh dan jorok terus semakin kesini masyarakat mulai sadar dan sering diajak berpartisipasi untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat serta didorong untuk mengias kampungnya sendiri dengan cat warna-warni yang disponsori oleh pabrik cat sekitar (bentuk CSR). 

Setelah puas berfoto-foto di Kampung Warna-Warni Jodipan aku diajak mainan ke Museum Brawijaya Malang. Liat semua peninggalan masa perang kemerdekaan seperti senjata, meriam, mortir, medali, piagam dan lain-lain. Museum ini berada di ruas jalan besar kota Malang. Dikelola oleh TNI-AD jadi yang banyak berseliweran dan menjaga museum ini ya mas-mas atau mbak-mbak berseragam loreng-loreng yang ganteng dan cantik lhoo.


 

Diajak ke Kampung Jodipan (Kampung Warna-Warni)



Mobil Klasik keren di Museum Brawijaya Malang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berlayar dengan kapal KM. Labobar dari Balikpapan - Pantoloan - Bitung - Ternate (Part 1)

Pelabuhan Semayang Balikpapan Hai semuanya kali ini aku menulis tentang pengalamanku ketika pergi berlayar menuju Ternate dari kotaku Balikpapan dengan kapal KM Labobar Lah kok bisa ya naik kapal? emang liburnya berapa lama? terus kok bisa pas jadwal libur dengan jadwal kapal? Hehe akan kuceritakan asal muasal kenapa aku bisa pergi liburan dengan berlayar bersama KM. Labobar. Jadi pada akhir Januari 2019 itu aku sudah bisa libur selama 14 hari kalender (2 minggu).  Bingung kan mau libur pergi kemana. Mau pulang ke Samarinda ah terlalu sering dan sudah biasa. Gak perlu nunggu libur panjang kan aku bisa pulang ke Samarinda. Terus cek-cek lagi jadwal ke Bongao, Tawi-Tawi (Filipina) via Sandakan Malaysia kok menarik yaaa.. eh gak taunya dekat hari libur tiba-tiba di berita muncul kabar bahwa di daerah Sandakan khususnya Filipina bagian selatan lagi ricuh akibat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Filipina. Ada pengeboman rumah ibadah s

Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo, Halmahera Barat, Maluku Utara

Setelah lewat hutan-hutan eh tiba-tiba langsung disuguhi pemandangan seperti ini. Hai semua. Ketemu lagi pada postingan baru ini. Jadi ceritanya tuh waktu liburan di Jailolo di Halmahera Barat selama beberapa hari aku lanjut lagi ke kota Tobelo di Halmahera Utara. Aksesnya kalau dari Jailolo cuma bisa lewat darat.  Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo ditempuh selama empat jam. Hehehe. Kalo kata warga lokal sih itu lama banget yah perjalanan darat itu tapi kalo buatku sih oke-oke aja. Malah gak kerasa lama tuh mungkin karena baru pertama kali menempun jalan darat kali ya. Jalan raya sudah sangat bagus loh. Lebar dan beraspal. Jalanan cukup lengang. Aspal mulus dan tidak bolong-bolong. Udara juga masih segar namun sayangnya belum terpasang fasilitas lampu jalan disisi kiri dan kanan jalan. Waktu itu aku naik mobil travel dari Jailolo ke Tobelo dan kebetulan supir travelnya ya tetangga sendiri dirumah Jailolo jadi ga takut ketinggalan mobil. Ohya satu lagi

Baju Barong Tagalog Pakaian Tradisional Pria Filipina

Barong Tagalog, pakaian pria nasional di Filipina. Sejarah :  Saat pendudukan lebih dari 300 tahun oleh Spanyol di Filipina (1561-1889) penduduk pria lokal Filipina wajib memakai baju yang sekarang dinamakan Barong Tagalog.  Barong Tagalog adalah baju pria berkerah yang tidak dimasukkan kedalam celana, tidak berkantung juga transparan / tembus pandang.  Baju ini dimaksudkan untuk mencegah orang Filipina menyembunyikan sesuatu dalam kantong bajunya, entah barang curian atau senjata tajam. Spanyol mewajibkan pemakaian baju ini kepada semua orang Filipina tanpa peduli tingginya jabatan mereka di masyarakat guna menunjukkan perbedaan antara orang Spanyol yang kaya raya dengan penduduk miskin Filipina.  Setelah Filipina merdeka, presiden mereka Manuel Quezon mempopulerkan pemakaian baju ini. Sebelumnya baju ini identik dengan kelas bawah. Ketika dipopulerkan oleh presiden dengan cara selalu memakai baju ini pada acara resmi kenegaraan maka baju ini pun semaki