Langsung ke konten utama

Pengamatan vegetasi flora dengan metode transek

Dulunya Aku beranggapan di dalam hutan itu isinya hewan buas liar, ular berbisa yg banyak menggantung di dahan pohon dan berbagai ketakutan akibat gambaran dari film Hollywood.

Nyatanya hutan tidak semenakutkan itu.

Pernah suatu kali Aku berkesempatan menemani tim penelitian flora-fauna dari institusi pendidikan tinggi terkenal di kota Bogor yang mana mereka saat itu mau meneliti hutan tropis Kalimantan.

Curah hujan yang tinggi, cahaya matahari melimpah sepanjang tahun maka tak heran variasi jenis vegetasi flora di dalam hutan tropis sangat banyak dan cenderung ukuran pohonnya tinggi akibat kompetisi mendapatkan sinar matahari sebagai proses fotosintesisnya.

Penelitian flora-fauna ini sebagai kegiatan berkelanjutan dalam pemetaan jenis apa sajakah tumbuhan maupun satwa di area hutan tsb?

Sederhananya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada jenis tumbuhan dan satwa yg dilindungi karena jumlahnya, kelangkaannya atau status nya kritis atau tidak.


Identifikasi jenis tumbuhan dan mengukur lingkar tanamannya


Bunga Anggrek liar yang sangat harum.


Cara yang paling umum ialah memakai metode garis transek.

Sepotong tali kurang lebih 50m akan ditarik memanjang membelah lokasi pengamatan yg sudah disetujui sebelumnya.

Setelah titik lokasi pengamatan telah ditentukan, akan dipilih beberapa titik yg dapat mencuplik semua area sehingga hasilnya pun lebih valid karena semua area telah terwakili.

Para pengamat menjalankan tugasnya disekitar tali yg sudah dipanjangkan tadi.

Tim flora mencatat vegatasi apa saja yg ada disekitar tali, mencatat diameter batang pohon, dsb.

Di dalam hutan tropis yg subur terdapat banyak serasah (guguran daun daun pohon yg mengering diatas tanah hutan).

Jika serasahnya tebal dan jika diinjak empuk maka itu pertanda hutan tsb jarang dimasuki manusia. 

Ada atau tidaknya sumber mata air, kubangan air juga mempengaruhi satwa yg ada. Semakin melimpah jumlah mata air maka bisa dipastikan peluang satwa eksotispun ditemukan semakin besar pula.




Mengukur serapan karbon dari rumput.


Mencari sesuatu.


Mencatat jenis tumbuhan yang ada

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berlayar dengan kapal KM. Labobar dari Balikpapan - Pantoloan - Bitung - Ternate (Part 1)

Pelabuhan Semayang Balikpapan Hai semuanya kali ini aku menulis tentang pengalamanku ketika pergi berlayar menuju Ternate dari kotaku Balikpapan dengan kapal KM Labobar Lah kok bisa ya naik kapal? emang liburnya berapa lama? terus kok bisa pas jadwal libur dengan jadwal kapal? Hehe akan kuceritakan asal muasal kenapa aku bisa pergi liburan dengan berlayar bersama KM. Labobar. Jadi pada akhir Januari 2019 itu aku sudah bisa libur selama 14 hari kalender (2 minggu).  Bingung kan mau libur pergi kemana. Mau pulang ke Samarinda ah terlalu sering dan sudah biasa. Gak perlu nunggu libur panjang kan aku bisa pulang ke Samarinda. Terus cek-cek lagi jadwal ke Bongao, Tawi-Tawi (Filipina) via Sandakan Malaysia kok menarik yaaa.. eh gak taunya dekat hari libur tiba-tiba di berita muncul kabar bahwa di daerah Sandakan khususnya Filipina bagian selatan lagi ricuh akibat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Filipina. Ada pengeboman rumah ibadah s

Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo, Halmahera Barat, Maluku Utara

Setelah lewat hutan-hutan eh tiba-tiba langsung disuguhi pemandangan seperti ini. Hai semua. Ketemu lagi pada postingan baru ini. Jadi ceritanya tuh waktu liburan di Jailolo di Halmahera Barat selama beberapa hari aku lanjut lagi ke kota Tobelo di Halmahera Utara. Aksesnya kalau dari Jailolo cuma bisa lewat darat.  Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo ditempuh selama empat jam. Hehehe. Kalo kata warga lokal sih itu lama banget yah perjalanan darat itu tapi kalo buatku sih oke-oke aja. Malah gak kerasa lama tuh mungkin karena baru pertama kali menempun jalan darat kali ya. Jalan raya sudah sangat bagus loh. Lebar dan beraspal. Jalanan cukup lengang. Aspal mulus dan tidak bolong-bolong. Udara juga masih segar namun sayangnya belum terpasang fasilitas lampu jalan disisi kiri dan kanan jalan. Waktu itu aku naik mobil travel dari Jailolo ke Tobelo dan kebetulan supir travelnya ya tetangga sendiri dirumah Jailolo jadi ga takut ketinggalan mobil. Ohya satu lagi

Baju Barong Tagalog Pakaian Tradisional Pria Filipina

Barong Tagalog, pakaian pria nasional di Filipina. Sejarah :  Saat pendudukan lebih dari 300 tahun oleh Spanyol di Filipina (1561-1889) penduduk pria lokal Filipina wajib memakai baju yang sekarang dinamakan Barong Tagalog.  Barong Tagalog adalah baju pria berkerah yang tidak dimasukkan kedalam celana, tidak berkantung juga transparan / tembus pandang.  Baju ini dimaksudkan untuk mencegah orang Filipina menyembunyikan sesuatu dalam kantong bajunya, entah barang curian atau senjata tajam. Spanyol mewajibkan pemakaian baju ini kepada semua orang Filipina tanpa peduli tingginya jabatan mereka di masyarakat guna menunjukkan perbedaan antara orang Spanyol yang kaya raya dengan penduduk miskin Filipina.  Setelah Filipina merdeka, presiden mereka Manuel Quezon mempopulerkan pemakaian baju ini. Sebelumnya baju ini identik dengan kelas bawah. Ketika dipopulerkan oleh presiden dengan cara selalu memakai baju ini pada acara resmi kenegaraan maka baju ini pun semaki