Balikpapan, 17 Sep 17
Halo apa kabar semuanya?
Sepertinya kalian semua baik,
sehat & selalu luar biasa.
Pagi
hari yang hujan di hari minggu pagi ini saya memutuskan untuk menulis tentang
kegiatan teman-teman dari BALITEK KSDA (Balai Penelitian Teknologi Konservasi
Sumber Daya Alam) yang bernaung dibawah Kementrian Lingkungan Hidup &
Kehutanan serta berkantor di Kilometer 38 Samboja, Kutai Kartanegara,
Kalimantan Timur.
Aktifitas
pembangunan yang kurang bijaksana terhadap alam dan lingkungan telah
menyebabkan deforestasi dan degradasi hutan sehingga banyak spesies tumbuhan
dan hewan terancam kepunahan akibat kerusakan dan kehilangan habitatnya,
disamping akibat perubahan iklim dan pemanasan global.
Seperti
yang teman-teman sudah ketahui, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara di
dunia yang memiliki cadangan hutan tropis yang cukup luas serta dikenal dengan paru-paru dunia dan dengan keanekaragaman
hayati di dalamnya?, maksudnya paru-paru dunia? Iya, karena luasnya areal hijau
di negara kita ini sehingga banyak negara lain yang peduli dengan kondisi hutan
tropis kita. Sebagai negara yang tidak mengenal musim gugur dan musim
dingin (salju), hutan tropis Indonesia
selalu tumbuh dengan baik setiap tahun, tanpa mengalami siklus menggugurkan
daun dan benar-benar “tidur” saat musim dingin, serta bertunas kembali di musim
semi.
Ohya,
apakah kalian masih ingat dengan jelas ketika hutan tropis kita terbakar akibat
pembakaran hutan oleh masyarakat untuk membuka lahan pertanian/perkebunan? Asap
yang dihasilkan sungguh pekat, belum lagi abu-nya yang berterbangan, sangat
menganggu pernapasan, belum lagi rasa perihnya mata akibat asap pembakaran
hutan, jarak pandang terganggu, hampir semua aktifitas warga terganggu akibat
kondisi ini, misal : anak sekolah yang diliburkan akibat jeleknya kondisi udara
diluar ruangan (sudah jelas merugikan, seharusnya anak-anak bisa mendapatkan
ilmu saat belajar disekolah, malah libur karena hal yang sebenarnya dihasilkan
oleh ulah manusia sendiri dan sangat bisa dicegah), belum lagi sederet keluhan dari negara tetangga tentang kiriman asap kebakaran hutan yang tiba di negara mereka, terganggunya jadwal
penerbangan, asap dari pembakaran hutan yang pekat ditambah cuaca yang
mendukung, awan tebal menutupi matahari, kecepatan angin yang cuma sepoi-sepoi
tidak mampu mendorong asap menjauh dari area lintasan pesawat terbang.
Sebelum
melakukan penerbangan, biasanya pihak BMKG (Badan Meterologi Klimatologi &
Geofisika) akan memberikan laporan keadaan cuaca real time kepada pihak
maskapai, dan jika jarak pandang below
minima, biasanya pilot tidak akan mengambil resiko untuk melakukan penerbangan,
melainkan menunggu hingga cuaca dan jarak pandang membaik dan bisa dipastikan
semua maskapai melakukan hal serupa yakni menunggu hingga cuaca membaik &
jarak pandang sudah cukup untuk melakukan penerbangan. Yang tadinya penerbangan
itu terjadwal (dalam artian penerbangan itu sudah siap secara teknis &
administrasi untuk berangkat sesuai jadwal yang telah ditentukan) namun
tertunda karena hal yang sebenarnya sangat bisa dicegah.
Kebakaran
hutan tropis kita juga pastinya mengancam keanekaragaman hayati disekitar dan
didalam hutan tersebut, tidak hanya manusia saja yang terganggu akibat
kebakaran ini, flora dan fauna juga sudah pasti merasakan hal serupa. Nah, bisa
dibayangkan jika di dalam hutan tropis tersebut terdapat jenis satwa dan
tumbuhan yang dilindungi karena terancam punah? Hewan-hewan yang mati karena panasnya
api & kepulan asap yang menyesakkan pernapasan serta mengiritasi
penglihatan atau kalaupun mereka berhasil menghindari kebakaran dengan
berpindah ketempat yang jauh namun tumbuhan sumber pakan mereka habis karena
terbakar oleh api sehingga ujung-ujungnya hewan yang selamat dari kebakaran
hutan tersebut perlahan-lahan akan mati karena kelaparan, ditambah lagi
kemungkinan adanya tumbuhan langka didalam hutan tersebut yang belum sempat teridentifikasi
oleh kita untuk diteliti, dikembangbiakkan atau tumbuhan yang sudah
teridentifikasi dan jelas-jelas dilindungi akibat lambannya regenerasi mereka atau
akibat persebaran mereka yang agak susah maupun tumbuhan yang hanya dapat hidup
pada kondisi tertentu yang khusus dimana kondisi tertentu itu terganggu kondisinya
akibat kebakaran hutan.
Sungguh
sangat menyesal dan ruginya kita kelak jika kepunahan itu benar-benar terjadi, apa
yang akan kita kenang dari sebutan paru-paru dunia dan beragamnya
keanekaragaman hayati kita? Generasi yang akan datang tidak akan lagi melihat
dan mengetahui jenis flora & fauna yang langka tersebut, sungguh menyayat
hati jika memikirkannya. Jika kita tidak sanggup untuk merawat kenanekaragaman
hayati, maka sebaiknya kita menjaga untuk tidak merusaknya, tidak serampangan
membuka lahan dengan membakarnya dan hal yang paling mudah dilakukan ialah tidak
membuang sampah sembarangan, dengan menerapkan hal sederhana itu kita sudah
turut membantu menjaga lingkungan kita.
Baru-baru
ini karena mendapat tugas dari kantor, saya berkesempatan untuk menemani para
petugas konservasi dari BALITEK KSDA Samboja. Begitu mendengar rencana ini saya
dengan senang hati mengiyakan kesempatan yang ditawarkan ini, sebuah kesempatan
langka yang saya yakini tidak semua orang bisa mendapatkannya. Saya akui saya
memang suka sekali dengan tumbuhan, hutan, satwa dsb. Mungkin karena saya dulu besar
di kota Samarinda pada sebuah lingkungan yang mendukung saya untuk
mengeksplorasi lingkungan sekitar, bersama anak-anak kampong kami sering
berenang di sebuah rawa-rawa dekat rumah (Kalimantan terkenal dengan banyaknya
rawa-rawa gambut) sampai orangtua saya suka marah-marah dan sering melarang
serta menakut-nakuti dengan berkata bahwa di rawa-rawa tersebut ada ular anaconda
besar, buaya bahkan…… ikan piranha! Saking saya ngebetnya berenang di rawa-rawa
tersebut, saya selalu berusaha untuk tidak memakai pakaian warna cerah seperti
warna putih atau abu-abu atau warna-warna cerah lainya, kenapa? Karena pasti
akan ternoda lumpur dan sangat susaaaaah sekali menghilangkan noda lumpur itu, dari
noda itu mama pasti tahu kalo aku habis berenang di rawa-rawa!
Selain
itu, temen-temen kampung saya juga suka sekali berpetualang ke hutan-hutan
sekitar rumah, naik turun bukit berjalan kaki sudah biasa, rasanya menyenangkan
bisa berjalan kaki menembus semak belukar naik turun bukit dan entah akan
berujung dimana. Kadang, saya geli sendiri ingat bahwa dulu waktu liburan
panjang sekolah dasar, bersama teman kampong kami suka bersepeda dengan jarak
yang cukup jauh. Bahkan sempat berkunjung ke sebuah air terjun tak bernama yang
terletak jauh dari tempat tinggal saya, air terjun nya saat itu tidak terlalu
curam dan tidak terlalu deras aliran airnya, ada banyak udang kecil
melompat-lompat di dalam aliran air terjun yang hendak jatuh kebawah. Ahh…sungguh
kenangan masa kecil yang indah, sekarang jika saya pulang ke kota dimana saya
dibesarkan, saya sampai saat ini belum berhasil menemukan air terjun tak bernama
tersebut, arah jalan menuju ke tempat itu sama, namun yang berubah adalah
suasana sekitarnya. Jika dahulu lingkungan sekitar menuju air terjun tak
bernama tersebut merupakan hutan, rawa-rawa dan padang rumput sekarang berubah
menjadi deretan ruko, perumahan, dan jalan raya, entah seperti apa bentuk air
terjun tak bernama tsb sekarang, apakah masih ada atau tidak, entahlah, teman
kecil saya pun mengiyakan bahwa dia juga tidak pernah menemui jalan menuju air
terjun tak bernama tersebut. Ada rasa sedih dan kecewa dihati, ada kalanya
mengunjungi tempat main masa kecil dapat mengobati kerinduan dihati
 |
Kawasan hutan bersebelahan dengan pemukiman penduduk. |
 |
Hati-hati ya |
Bagi
saya hadirnya hutan di pinggiran kota Balikpapan merupakan sebuah oase
kehidupan ditengah sibuknya dunia perkotaan disekitarnya, sebuah obat bagi
kegersangan jiwa, penenang raga dikala gundah dan tempat untuk pergi
berpetualang barang sesekali. Dahulu sekali saya sering melamun penasaran
tentang hal apa yang dimiliki hutan kota tersebut, namun urung saya lakukan
karena tidak ada teman saya yang bersedia menemani masuk ke areal hutan
tersebut, berpergian sendiri juga urung saya lakukan akibat takut akan hewan
liar seperti ular, maklum karena areal hutan ini tidak dimaksudkan untuk wisata
sehingga tidak ada pengawas yang bertugas sehingga agak repot memang jika
terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan ketika berada di dalam hutan
tersebut.
 |
Monyet bersantai di pohon |
Bak
gayung bersambut, keinginan saya untuk
memasuki areal hutan itu terjadi! Ini semua karena BALITEK KSDA diminta untuk
melakukan penelitian di kawasan hutan itu dan saya pun ditunjuk untuk menemani.
Kesempatan langka itu langsung saya iyakan tanpa pikir panjang. Mumpung lagi
ada ahli nya kapan lagi saya bisa masuk hutan sekaligus belajar hal-hal yang
tidak semua orang awam tahu. Merupakan keuntungan berganda bukan? Hasrat
penasaran saya terobati sekaligus pengetahuan saya tentang keanekaragaman
hayati juga bertambah.
Pada
hari penelitian pertama, Tim BALITEK KSDA sebelum memulai pekerjaan penelitian
mempersiapkan kamera trap untuk
menangkap gambar satwa yang melintas didepan kamera, tujuannya jelas yakni
untuk mengetahui hewan apa saja yang hidup dalam kawasan hutan tsb. Kamera ini didesain
khusus untuk dipakai penelitian dengan bentuknya yang ringan dan cukup menggunakan
baterai AA beberapa sebagai tenaga listrik yang tahan dalam tempo yang cukup
lama.
Sangat disayangkan pada hari
pertama ini cuaca tidak bersahabat, sedari pagi langit diatas kami sedang muram
dan meneteskan air hujan tiada henti sehingga pada hari itu tidak ada lagi
aktifitas apapun selain persiapan kamera trap.
Hujan hingga sore hari yang memutuskan kami untuk melanjutkan kegiatan esok
hari. Padahal rencana nya mereka akan masuk kedalam hutan untuk melakukan
survey dan mendapatkan gambaran
seperti apa dan bagaimana pekerjaan besok akan dilakukan.
Hari
kedua. Cuaca sedari pagi sangat cerah, awan gelap tidak lagi menutupi matahari
seperti hari kemarin. Terimakasih alam semesta. Ohya dalam rangka penelitian
ini, tim BALITEK KSDA ini pulang balik kilometer 38 – Balikpapan loh. Karena mereka
bertempat tinggal di Samboja km 38 tsb, cukup melelahkan ya perjuangan mereka
untuk melestarikan alam. Salut banget buat mas-mas, bapak-bapak dan mbak yang
tergabung dalam tim ini, kecintaan mereka terhadap alam sekitar terutama flora
dan fauna liar sudah tidak diragukan lagi. Sudah belasan hingga puluhan tahun
mereka terjun dalam dunia ini. Kalau bukan karena cinta dan keiklhasan, lantas
karena apa lagi mereka rela keluar masuk hutan bahkan terkadang harus tinggal
beberapa hari, minggu bahkan bulan untuk meneliti keanekaragaman hayati.
Kali
ini mereka membawa jebakan/perangkap hewan, sebuah kandang kecil dan diisi
umpan, mirip seperti jebakan tikus di rumah-rumah. Umpan yang dibawa ialah
kulit nanas dengan aroma wanginya yang semerbak dan manis serta buah kelapa tua
yang dikupas dan dibakar untuk memperkuat aromanya. Nantinya kamera trap akan dipasang menghadap kandang
jebakan berisi umpan ini, dengan tujuan menangkap gambar hewan apa saja yang
terdapat dalam hutan ini.
 |
selesai berdiskusi pagi. |
 |
Ini dia jebakan hewan kecil. |
Tim
BALITEK KSDA (conservationist) ini dalam bekerja terbagi lagi menjadi dua grup. Grup yang pertama bertugas untuk meneliiti & mengidentifikasi
satwa serta grup kedua bertugas melakukan pencatatan akan tumbuhan didalam
hutan tropis ini. Grup tumbuh-tumbuhan dengan sigap membuat plot-plot (semacam kegiatan memberikan
batasan luasan area yang akan diteliti) di dalam hutan. Nantinya di dalam plot yang sudah dibuat akan dicatat
tumbuhan apa saja yang berada didalamnya, baik tumbuhan bawah seperti semak
belukar, pakis-pakisan, paku-pakuan, sampai pohon. Dengan bantuan pembuatan plot ini semua tumbuhan akan tercatat dengan baik. Saya
kagum sekali dengan grup tumbuhan ini, hanya dengan melihat sejenak dan
meyentuh tanaman mereka langsung tahu nama latin tumbuhan tersebut dan langsung
mencatat. Sering juga mereka saling berdiskusi untuk menentukan nama latin
sebuah tumbuhan yang agak ragu diputuskan saat dilakukan pengidentifikasiannya.
Bahkan ada beberapa tumbuhan yang mereka belum pernah temui atau sama sekali
ragu akan jenisnya, hal ini tidak didiamkan saja, melainkan mereka mengambil
sampel daun tua dan muda serta batangnya untuk dibawa ke lab agar dilakukan
identifikasi lebih lanjut.
Dulu saya pikir semua tumbuhan didalam hutan terlihat sama, namun rupanya
sangat beragam. Ada berbagai istilah yang terucap dari mereka seperti misalnya:
lembar daun, jari-jari daun, berbatang tunggal dll. Ohya selain mencatat
nama-nama latinnya, mereka juga mencatat diameter dan tinggi pohon. Untungnya sekarang
jaman sudah berubah dan berbagai alat teknologi sudah banyak membantu dalam
mengidentifikasi tumbuhan, terutama pohon yang sangat tinggi. Dahulu harus
dilakukan pemanjatan pohon yang tinggi itu untuk diambil sampel daun muda, daun tua, bunga, biji serta batangnya, namun
sekarang cukup memakai teropong atau kamera DSLR beresolusi tinggi untuk
melakukan identifikasi, tentunya hal ini mempersingkat waktu dan memudahkan
pekerjaan bukan? Jika melalui teropong dan jepretan kamera DSLR tidak juga membuat
mereka yakin dalam mengidentifikasi, barulah mereka memanjat atau menggunakan
ketapel untuk mengambil dedaunan dan batang untuk dibawa ke laboratorium
mereka.
Kegiatan
mereka dalam hal panjat memanjat pohon ini membuat saya ingat akan pekerjaan ayah saya yang
dahulu waktu masih muda bekerja pada sektor industry perkayuan di hutan
pedalaman Kalimantan Timur. Saya ingat dari foto-foto lama ayah suka memanjat pohon dengan
bantuan tali temali, mengukur diameter pohon, dll. Hmm, rupanya seperti ini
rasanya dahulu ketika ayah saya berjuang menghidupi keluarganya, berkutat dengan naik turun perbukitan, lembabnya udara didalam hutan, potensi serangan nyamuk malaria maupun serangan hewan liar. Terus terang
saya agak kewalahan dalam menemani Tim BALITEK KSDA ini, fisik dan stamina
mereka benar-benar prima, mereka sanggup naik turun bukit, berjalan kaki terus
menerus. Saya kepayahan mengejar mereka, maklum karena pekerjaan kantoran membuat saya jarang
berolahraga. Bahkan nih, setelah mereka menikmati makan siang, eeeh bukannya
istirahat sejenak / tidur-tiduran manja, mereka langsung lanjut lagi membuat plot dan meneliti tumbuhan. Bener-bener pekerja
keras ya mereka.
Balik
lagi ke grup kedua, mereka ini grup yang bertugas memasang kandang jebakan
binatang dan kamera trap, memasang jaring
halus ditengah hutan dengan kawasan yang agak terbuka dengan harapan hewan yang
terbang akan terperangkap di jaring tersebut. Kenapa sih harus kok pakai jaring
segala? Karena hewan yang terbang umumnya susah diidentifikasi secara langsung ketika
mereka sedang terbang, bahkan bagi peneliti yang berpengalaman pun mereka kerap
kesusahan dalam mengidentifikasi hewan ketika sedang terbang, sepintas hewan tersebut terlihat
sama jika diamati dari jauh, namun jika hewan terbang itu berhasil
terjaring, hal itu akan lebih memudahkan dan tentu saja hasil identifikasi lebih
akurat daripada pengamatan langsung ketika hewan tersebut terbang. Masuk akal juga penjelasan mereka. Beberapa hari bersama tim BALITEK KSDA ini sungguh luar biasa, saya dengan tenang keluar masuk hutan tanpa rasa was-was karena bersama ahlinya, andaikata sendirian saja, sudah pasti saya ketakutan, tidak setenang ini, was-was bertemu hewan buas. Tim ini sungguh tangguh, keluar masuk hutan tanpa rasa takut, mungkin karena sudah kebiasaan, rasanya mereka keluar masuk hutan seperti keluar masuk taman bermain saja.
Dari mereka jugalah saya jadi tahu bahwa jejak dan rute hewan liar itu selalu tidak berubah kecuali babi hutan. Seperti manusia, mereka selalu melewati di jalur/rute itu-itu saja, jadi jika didalam hutan kalian melihat ada areal rerumputan yang rebah namun disekitarnya rerumputan itu masih tegak, bisa dipastikan itu merupakan jalur rute jalan-jalan hewan liar, hehe.
Berikut dokumentasi yang berhasil saya jepret. Silahkan berpetualang!
 |
Persiapan pagi hari tim BALITEK KSDA. |
|
|
|
 |
Tulip Afrika, tanaman eksotis. |
 |
Jengkol Hutan e tapi buahnya mana ya? |
 |
Bunga tumbuhan Simpur. |
 |
Jambu Monyet, apakah buah ini cuma khusus buat monyet? |
 |
Pengamatan sekitar. |
 |
Pohon Kahoi. |
 |
Yang melingkar itu adalah batang / akar tumbuhan liana, diapakai Tarzan untuk berayun-ayun. |
 |
Nyatoh Laut. |
 |
Persiapan memasang kamera trap |
 |
Pasang jebakan, jangan lupa dikasih umpan ya. |
 |
Salah satu jenis tumbuhan Liana (tumbuhan yang merambat/menjalar). |
 |
Palem-paleman, berduri. |
 |
Tumbuhan obat, Pasak Bumi. |
 |
buah Simpur, semut mendekat. |
 |
ini dia buku pegangan teman BALITEK KSDA, gambarnya merupakan lukisan tangan looh. |
 |
Buah Simpur. |
 |
Bunga Simpur sedang mekar. |
 |
Jangan lupa dicatat ya biar tidak ada yang terlewatkan. |
 |
Kalau untuk pengamatan Burung, ini buku panduan lapangannya. |
 |
Lukisan tangannya indah ya? mirip seperti aslinya |
 |
Bahkan skala & anatominya sesuai. |
 |
Bapak Arifin ini sungguh berpengalaman, cukup melihat saja beliau sudah bisa menebak nama latin tumbuhan tsb. |
 |
Kerjasama tim, yang satu mengidentifikasi, yang lain mencatat. |
 |
Pohon Akasia ditebang. |
 |
Coba lihat keatas, ini yang mellilit melingkar adalah jenis tumbuhan Liana. |
 |
Derajat kemiringan tanahnya super sekali, lelah abang mendakinya. |
 |
Disekitar sini ada apa lagi yaa? |
Demikian lah dua hari bersama tim peneliti dari BALITEK KSDA, adalah sebuah pengalaman berharga bagi saya bisa mengalami kegiatan meneliti keanekaragaman hayati. Tulisan ini akan berlanjut di bagian ke 2, silahkan klik
disini
Sampai jumpa lagi di tulisan selanjutnya, semoga kita semua diberikan kesehatan & rejeki yang melimpah.
Terimakasih
note : Bagi para pembaca sekalian yang berada di sekitar Kalimantan Timur maupun bagi pembaca lainnya yang ingin mengetahui apa saja kegiatan BALITEK KSDA dan koleksi apa saja yang dimiliki pada Herbarium mereka, atau sekedar ingin berkunjung, bertanya & belajar tentang konservasi alam silahkan saja datang ke kantor mereka di :
BALAI PENELITIAN dan PENGEMBANGAN TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM, Jl.Soekarno-Hatta Km.38 Samboja, PO.BOX 578 Balikpapan 76112. Tel : 0542-7217663 / Fax : 0542-7217665, Email : bpt.ksda@forda-mof.org Website : www.balitek-ksda.or.id
Komentar
Posting Komentar