Langsung ke konten utama

Keanekaragaman Hayati (pengalaman bersama Conservationist) bagian 1

Balikpapan, 17 Sep 17



Halo apa kabar semuanya? 

Sepertinya kalian semua baik, sehat & selalu luar biasa.




                Pagi hari yang hujan di hari minggu pagi ini saya memutuskan untuk menulis tentang kegiatan teman-teman dari BALITEK KSDA (Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam) yang bernaung dibawah Kementrian Lingkungan Hidup & Kehutanan serta berkantor di Kilometer 38 Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

                Aktifitas pembangunan yang kurang bijaksana terhadap alam dan lingkungan telah menyebabkan deforestasi dan degradasi hutan sehingga banyak spesies tumbuhan dan hewan terancam kepunahan akibat kerusakan dan kehilangan habitatnya, disamping akibat perubahan iklim dan pemanasan global.

                Seperti yang teman-teman sudah ketahui, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara di dunia yang memiliki cadangan hutan tropis yang cukup luas serta dikenal dengan  paru-paru dunia dan dengan keanekaragaman hayati di dalamnya?, maksudnya paru-paru dunia? Iya, karena luasnya areal hijau di negara kita ini sehingga banyak negara lain yang peduli dengan kondisi hutan tropis kita. Sebagai negara yang tidak mengenal musim gugur dan musim dingin  (salju), hutan tropis Indonesia selalu tumbuh dengan baik setiap tahun, tanpa mengalami siklus menggugurkan daun dan benar-benar “tidur” saat musim dingin, serta bertunas kembali di musim semi. 

                Ohya, apakah kalian masih ingat dengan jelas ketika hutan tropis kita terbakar akibat pembakaran hutan oleh masyarakat untuk membuka lahan pertanian/perkebunan? Asap yang dihasilkan sungguh pekat, belum lagi abu-nya yang berterbangan, sangat menganggu pernapasan, belum lagi rasa perihnya mata akibat asap pembakaran hutan, jarak pandang terganggu, hampir semua aktifitas warga terganggu akibat kondisi ini, misal : anak sekolah yang diliburkan akibat jeleknya kondisi udara diluar ruangan (sudah jelas merugikan, seharusnya anak-anak bisa mendapatkan ilmu saat belajar disekolah, malah libur karena hal yang sebenarnya dihasilkan oleh ulah manusia sendiri dan sangat bisa dicegah), belum lagi sederet keluhan dari negara tetangga tentang kiriman asap kebakaran hutan yang tiba di negara mereka, terganggunya jadwal penerbangan, asap dari pembakaran hutan yang pekat ditambah cuaca yang mendukung, awan tebal menutupi matahari, kecepatan angin yang cuma sepoi-sepoi tidak mampu mendorong asap menjauh dari area lintasan pesawat terbang.

                Sebelum melakukan penerbangan, biasanya pihak BMKG (Badan Meterologi Klimatologi & Geofisika) akan memberikan laporan keadaan cuaca real time kepada pihak maskapai, dan jika jarak pandang below minima, biasanya pilot tidak akan mengambil resiko untuk melakukan penerbangan, melainkan menunggu hingga cuaca dan jarak pandang membaik dan bisa dipastikan semua maskapai melakukan hal serupa yakni menunggu hingga cuaca membaik & jarak pandang sudah cukup untuk melakukan penerbangan. Yang tadinya penerbangan itu terjadwal (dalam artian penerbangan itu sudah siap secara teknis & administrasi untuk berangkat sesuai jadwal yang telah ditentukan) namun tertunda karena hal yang sebenarnya sangat bisa dicegah.

                Kebakaran hutan tropis kita juga pastinya mengancam keanekaragaman hayati disekitar dan didalam hutan tersebut, tidak hanya manusia saja yang terganggu akibat kebakaran ini, flora dan fauna juga sudah pasti merasakan hal serupa. Nah, bisa dibayangkan jika di dalam hutan tropis tersebut terdapat jenis satwa dan tumbuhan yang dilindungi karena terancam punah? Hewan-hewan yang mati karena panasnya api & kepulan asap yang menyesakkan pernapasan serta mengiritasi penglihatan atau kalaupun mereka berhasil menghindari kebakaran dengan berpindah ketempat yang jauh namun tumbuhan sumber pakan mereka habis karena terbakar oleh api sehingga ujung-ujungnya hewan yang selamat dari kebakaran hutan tersebut perlahan-lahan akan mati karena kelaparan, ditambah lagi kemungkinan adanya tumbuhan langka didalam hutan tersebut yang belum sempat teridentifikasi oleh kita untuk diteliti, dikembangbiakkan atau tumbuhan yang sudah teridentifikasi dan jelas-jelas dilindungi akibat lambannya regenerasi mereka atau akibat persebaran mereka yang agak susah maupun tumbuhan yang hanya dapat hidup pada kondisi tertentu yang khusus dimana kondisi tertentu itu terganggu kondisinya akibat kebakaran hutan.

                Sungguh sangat menyesal dan ruginya kita kelak jika kepunahan itu benar-benar terjadi, apa yang akan kita kenang dari sebutan paru-paru dunia dan beragamnya keanekaragaman hayati kita? Generasi yang akan datang tidak akan lagi melihat dan mengetahui jenis flora & fauna yang langka tersebut, sungguh menyayat hati jika memikirkannya. Jika kita tidak sanggup untuk merawat kenanekaragaman hayati, maka sebaiknya kita menjaga untuk tidak merusaknya, tidak serampangan membuka lahan dengan membakarnya dan hal yang paling mudah dilakukan ialah tidak membuang sampah sembarangan, dengan menerapkan hal sederhana itu kita sudah turut membantu menjaga lingkungan kita.

                Baru-baru ini karena mendapat tugas dari kantor, saya berkesempatan untuk menemani para petugas konservasi dari BALITEK KSDA Samboja. Begitu mendengar rencana ini saya dengan senang hati mengiyakan kesempatan yang ditawarkan ini, sebuah kesempatan langka yang saya yakini tidak semua orang bisa mendapatkannya. Saya akui saya memang suka sekali dengan tumbuhan, hutan, satwa dsb. Mungkin karena saya dulu besar di kota Samarinda pada sebuah lingkungan yang mendukung saya untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar, bersama anak-anak kampong kami sering berenang di sebuah rawa-rawa dekat rumah (Kalimantan terkenal dengan banyaknya rawa-rawa gambut) sampai orangtua saya suka marah-marah dan sering melarang serta menakut-nakuti dengan berkata bahwa di rawa-rawa tersebut ada ular anaconda besar, buaya bahkan…… ikan piranha! Saking saya ngebetnya berenang di rawa-rawa tersebut, saya selalu berusaha untuk tidak memakai pakaian warna cerah seperti warna putih atau abu-abu atau warna-warna cerah lainya, kenapa? Karena pasti akan ternoda lumpur dan sangat susaaaaah sekali menghilangkan noda lumpur itu, dari noda itu mama pasti tahu kalo aku habis berenang di rawa-rawa!

                Selain itu, temen-temen kampung saya juga suka sekali berpetualang ke hutan-hutan sekitar rumah, naik turun bukit berjalan kaki sudah biasa, rasanya menyenangkan bisa berjalan kaki menembus semak belukar naik turun bukit dan entah akan berujung dimana. Kadang, saya geli sendiri ingat bahwa dulu waktu liburan panjang sekolah dasar, bersama teman kampong kami suka bersepeda dengan jarak yang cukup jauh. Bahkan sempat berkunjung ke sebuah air terjun tak bernama yang terletak jauh dari tempat tinggal saya, air terjun nya saat itu tidak terlalu curam dan tidak terlalu deras aliran airnya, ada banyak udang kecil melompat-lompat di dalam aliran air terjun yang hendak jatuh kebawah. Ahh…sungguh kenangan masa kecil yang indah, sekarang jika saya pulang ke kota dimana saya dibesarkan, saya sampai saat ini belum berhasil menemukan air terjun tak bernama tersebut, arah jalan menuju ke tempat itu sama, namun yang berubah adalah suasana sekitarnya. Jika dahulu lingkungan sekitar menuju air terjun tak bernama tersebut merupakan hutan, rawa-rawa dan padang rumput sekarang berubah menjadi deretan ruko, perumahan, dan jalan raya, entah seperti apa bentuk air terjun tak bernama tsb sekarang, apakah masih ada atau tidak, entahlah, teman kecil saya pun mengiyakan bahwa dia juga tidak pernah menemui jalan menuju air terjun tak bernama tersebut. Ada rasa sedih dan kecewa dihati, ada kalanya mengunjungi tempat main masa kecil dapat mengobati kerinduan dihati



Kawasan hutan bersebelahan dengan pemukiman penduduk.
            


Hati-hati ya



        Bagi saya hadirnya hutan di pinggiran kota Balikpapan merupakan sebuah oase kehidupan ditengah sibuknya dunia perkotaan disekitarnya, sebuah obat bagi kegersangan jiwa, penenang raga dikala gundah dan tempat untuk pergi berpetualang barang sesekali. Dahulu sekali saya sering melamun penasaran tentang hal apa yang dimiliki hutan kota tersebut, namun urung saya lakukan karena tidak ada teman saya yang bersedia menemani masuk ke areal hutan tersebut, berpergian sendiri juga urung saya lakukan akibat takut akan hewan liar seperti ular, maklum karena areal hutan ini tidak dimaksudkan untuk wisata sehingga tidak ada pengawas yang bertugas sehingga agak repot memang jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan ketika berada di dalam hutan tersebut.

Monyet bersantai di pohon


                Bak gayung bersambut, keinginan  saya untuk memasuki areal hutan itu terjadi! Ini semua karena BALITEK KSDA diminta untuk melakukan penelitian di kawasan hutan itu dan saya pun ditunjuk untuk menemani. Kesempatan langka itu langsung saya iyakan tanpa pikir panjang. Mumpung lagi ada ahli nya kapan lagi saya bisa masuk hutan sekaligus belajar hal-hal yang tidak semua orang awam tahu. Merupakan keuntungan berganda bukan? Hasrat penasaran saya terobati sekaligus pengetahuan saya tentang keanekaragaman hayati juga bertambah.

                Pada hari penelitian pertama, Tim BALITEK KSDA sebelum memulai pekerjaan penelitian mempersiapkan kamera trap untuk menangkap gambar satwa yang melintas didepan kamera, tujuannya jelas yakni untuk mengetahui hewan apa saja yang hidup dalam kawasan hutan tsb. Kamera ini didesain khusus untuk dipakai penelitian dengan bentuknya yang ringan dan cukup menggunakan baterai AA beberapa sebagai tenaga listrik yang tahan dalam tempo yang cukup lama.

            Sangat disayangkan pada hari pertama ini cuaca tidak bersahabat, sedari pagi langit diatas kami sedang muram dan meneteskan air hujan tiada henti sehingga pada hari itu tidak ada lagi aktifitas apapun selain persiapan kamera trap. Hujan hingga sore hari yang memutuskan kami untuk melanjutkan kegiatan esok hari. Padahal rencana nya mereka akan masuk kedalam hutan untuk  melakukan survey dan mendapatkan gambaran seperti apa dan bagaimana pekerjaan besok akan dilakukan.

                Hari kedua. Cuaca sedari pagi sangat cerah, awan gelap tidak lagi menutupi matahari seperti hari kemarin. Terimakasih alam semesta. Ohya dalam rangka penelitian ini, tim BALITEK KSDA ini pulang balik kilometer 38 – Balikpapan loh. Karena mereka bertempat tinggal di Samboja km 38 tsb, cukup melelahkan ya perjuangan mereka untuk melestarikan alam. Salut banget buat mas-mas, bapak-bapak dan mbak yang tergabung dalam tim ini, kecintaan mereka terhadap alam sekitar terutama flora dan fauna liar sudah tidak diragukan lagi. Sudah belasan hingga puluhan tahun mereka terjun dalam dunia ini. Kalau bukan karena cinta dan keiklhasan, lantas karena apa lagi mereka rela keluar masuk hutan bahkan terkadang harus tinggal beberapa hari, minggu bahkan bulan untuk meneliti keanekaragaman hayati. 

                Kali ini mereka membawa jebakan/perangkap hewan, sebuah kandang kecil dan diisi umpan, mirip seperti jebakan tikus di rumah-rumah. Umpan yang dibawa ialah kulit nanas dengan aroma wanginya yang semerbak dan manis serta buah kelapa tua yang dikupas dan dibakar untuk memperkuat aromanya. Nantinya kamera trap akan dipasang menghadap kandang jebakan berisi umpan ini, dengan tujuan menangkap gambar hewan apa saja yang terdapat dalam hutan ini.


selesai berdiskusi pagi.


Ini dia jebakan hewan kecil.

                Tim BALITEK KSDA (conservationist) ini dalam bekerja terbagi lagi menjadi dua grup. Grup  yang pertama bertugas untuk meneliiti & mengidentifikasi satwa serta grup kedua bertugas melakukan pencatatan akan tumbuhan didalam hutan tropis ini. Grup tumbuh-tumbuhan dengan sigap membuat plot-plot (semacam kegiatan memberikan batasan luasan area yang akan diteliti) di dalam hutan. Nantinya di dalam plot yang sudah dibuat akan dicatat tumbuhan apa saja yang berada didalamnya, baik tumbuhan bawah seperti semak belukar, pakis-pakisan, paku-pakuan, sampai pohon. Dengan bantuan pembuatan plot ini  semua tumbuhan akan tercatat dengan baik. Saya kagum sekali dengan grup tumbuhan ini, hanya dengan melihat sejenak dan meyentuh tanaman mereka langsung tahu nama latin tumbuhan tersebut dan langsung mencatat. Sering juga mereka saling berdiskusi untuk menentukan nama latin sebuah tumbuhan yang agak ragu diputuskan saat dilakukan pengidentifikasiannya. Bahkan ada beberapa tumbuhan yang mereka belum pernah temui atau sama sekali ragu akan jenisnya, hal ini tidak didiamkan saja, melainkan mereka mengambil sampel daun tua dan muda serta batangnya untuk dibawa ke lab agar dilakukan identifikasi lebih lanjut. 

              Dulu saya pikir semua tumbuhan didalam hutan terlihat sama, namun rupanya sangat beragam. Ada berbagai istilah yang terucap dari mereka seperti misalnya: lembar daun, jari-jari daun, berbatang tunggal dll. Ohya selain mencatat nama-nama latinnya, mereka juga mencatat diameter dan tinggi pohon. Untungnya sekarang jaman sudah berubah dan berbagai alat teknologi sudah banyak membantu dalam mengidentifikasi tumbuhan, terutama pohon yang sangat tinggi. Dahulu harus dilakukan pemanjatan pohon yang tinggi itu untuk diambil sampel daun muda, daun tua, bunga, biji serta batangnya, namun sekarang cukup memakai teropong atau kamera DSLR beresolusi tinggi untuk melakukan identifikasi, tentunya hal ini mempersingkat waktu dan memudahkan pekerjaan bukan? Jika melalui teropong dan jepretan kamera DSLR tidak juga membuat mereka yakin dalam mengidentifikasi, barulah mereka memanjat atau menggunakan ketapel untuk mengambil dedaunan dan batang untuk dibawa ke laboratorium mereka.
                Kegiatan mereka dalam hal panjat memanjat pohon ini membuat saya ingat akan pekerjaan ayah saya yang dahulu waktu masih muda bekerja pada sektor industry perkayuan di hutan pedalaman Kalimantan Timur. Saya ingat dari foto-foto lama ayah suka memanjat pohon dengan bantuan tali temali, mengukur diameter pohon, dll. Hmm, rupanya seperti ini rasanya dahulu ketika ayah saya berjuang menghidupi keluarganya, berkutat dengan naik turun perbukitan, lembabnya udara didalam hutan, potensi serangan nyamuk malaria maupun serangan hewan liar. Terus terang saya agak kewalahan dalam menemani Tim BALITEK KSDA ini, fisik dan stamina mereka benar-benar prima, mereka sanggup naik turun bukit, berjalan kaki terus menerus. Saya kepayahan mengejar mereka, maklum karena pekerjaan kantoran membuat saya jarang berolahraga. Bahkan nih, setelah mereka menikmati makan siang, eeeh bukannya istirahat sejenak / tidur-tiduran manja, mereka langsung lanjut lagi membuat plot dan meneliti tumbuhan. Bener-bener pekerja keras ya mereka.

                Balik lagi ke grup kedua, mereka ini grup yang bertugas memasang kandang jebakan binatang dan kamera trap, memasang jaring halus ditengah hutan dengan kawasan yang agak terbuka dengan harapan hewan yang terbang akan terperangkap di jaring tersebut. Kenapa sih harus kok pakai jaring segala? Karena hewan yang terbang umumnya susah diidentifikasi secara langsung ketika mereka sedang terbang, bahkan bagi peneliti yang berpengalaman pun mereka kerap kesusahan dalam mengidentifikasi hewan ketika sedang terbang, sepintas hewan tersebut terlihat sama jika diamati dari jauh, namun  jika hewan terbang itu berhasil terjaring, hal itu akan lebih memudahkan dan tentu saja hasil identifikasi lebih akurat daripada pengamatan langsung ketika hewan tersebut terbang.  Masuk akal juga penjelasan mereka. Beberapa hari bersama tim BALITEK KSDA ini sungguh luar biasa, saya dengan tenang keluar masuk hutan tanpa rasa was-was karena bersama ahlinya, andaikata sendirian saja, sudah pasti saya ketakutan, tidak setenang ini, was-was bertemu hewan buas. Tim ini sungguh tangguh, keluar masuk hutan tanpa rasa takut, mungkin karena sudah kebiasaan, rasanya mereka keluar masuk hutan seperti keluar masuk taman bermain saja. 

                 Dari mereka jugalah saya jadi tahu bahwa jejak dan rute hewan liar itu selalu tidak berubah kecuali babi hutan. Seperti manusia, mereka selalu melewati di jalur/rute itu-itu saja, jadi jika didalam hutan kalian melihat ada areal rerumputan yang rebah namun disekitarnya rerumputan itu masih tegak, bisa dipastikan itu merupakan jalur rute jalan-jalan hewan liar, hehe. 




Berikut dokumentasi yang berhasil saya jepret. Silahkan berpetualang!




Persiapan pagi hari tim BALITEK KSDA.




Tulip Afrika, tanaman eksotis.



Jengkol Hutan e tapi buahnya mana ya?





Bunga tumbuhan Simpur.




Jambu Monyet, apakah buah ini cuma khusus buat monyet?



Pengamatan sekitar.



Pohon Kahoi.



Yang melingkar itu adalah batang / akar tumbuhan liana, diapakai Tarzan untuk berayun-ayun.


Nyatoh Laut.


Persiapan memasang kamera trap



Pasang jebakan, jangan lupa dikasih umpan ya.



Salah satu jenis tumbuhan Liana (tumbuhan yang merambat/menjalar).




Palem-paleman, berduri.



Tumbuhan obat, Pasak Bumi.



buah Simpur, semut mendekat.



ini dia buku pegangan teman BALITEK KSDA, gambarnya merupakan lukisan tangan looh.



Buah Simpur.



Bunga Simpur sedang mekar.



Jangan lupa dicatat ya biar tidak ada yang terlewatkan.



Kalau untuk pengamatan Burung, ini buku panduan lapangannya.



Lukisan tangannya indah ya? mirip seperti aslinya



Bahkan skala & anatominya sesuai.



Bapak Arifin ini sungguh berpengalaman, cukup melihat saja beliau sudah bisa menebak nama latin tumbuhan tsb.



Kerjasama tim, yang satu mengidentifikasi, yang lain mencatat.



Pohon Akasia ditebang.


Coba lihat keatas, ini yang mellilit melingkar adalah jenis tumbuhan Liana.



Derajat kemiringan tanahnya super sekali, lelah abang mendakinya.



Disekitar sini ada apa lagi yaa?




Demikian lah dua hari bersama tim peneliti dari BALITEK KSDA, adalah sebuah pengalaman berharga bagi saya bisa mengalami kegiatan meneliti keanekaragaman hayati. Tulisan ini akan berlanjut di bagian ke 2, silahkan klik disini


Sampai jumpa lagi di tulisan selanjutnya, semoga kita semua diberikan kesehatan & rejeki yang melimpah.




Terimakasih





note : Bagi para pembaca sekalian yang berada di sekitar Kalimantan Timur maupun bagi pembaca lainnya yang ingin mengetahui apa saja kegiatan BALITEK KSDA dan koleksi apa saja yang dimiliki pada Herbarium mereka, atau sekedar ingin berkunjung, bertanya & belajar tentang konservasi alam silahkan saja datang ke kantor mereka di : BALAI PENELITIAN dan PENGEMBANGAN TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM, Jl.Soekarno-Hatta Km.38 Samboja, PO.BOX 578 Balikpapan 76112. Tel : 0542-7217663 / Fax : 0542-7217665, Email : bpt.ksda@forda-mof.org Website : www.balitek-ksda.or.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berlayar dengan kapal KM. Labobar dari Balikpapan - Pantoloan - Bitung - Ternate (Part 1)

Pelabuhan Semayang Balikpapan Hai semuanya kali ini aku menulis tentang pengalamanku ketika pergi berlayar menuju Ternate dari kotaku Balikpapan dengan kapal KM Labobar Lah kok bisa ya naik kapal? emang liburnya berapa lama? terus kok bisa pas jadwal libur dengan jadwal kapal? Hehe akan kuceritakan asal muasal kenapa aku bisa pergi liburan dengan berlayar bersama KM. Labobar. Jadi pada akhir Januari 2019 itu aku sudah bisa libur selama 14 hari kalender (2 minggu).  Bingung kan mau libur pergi kemana. Mau pulang ke Samarinda ah terlalu sering dan sudah biasa. Gak perlu nunggu libur panjang kan aku bisa pulang ke Samarinda. Terus cek-cek lagi jadwal ke Bongao, Tawi-Tawi (Filipina) via Sandakan Malaysia kok menarik yaaa.. eh gak taunya dekat hari libur tiba-tiba di berita muncul kabar bahwa di daerah Sandakan khususnya Filipina bagian selatan lagi ricuh akibat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Filipina. Ada pengeboman rumah ibadah s

Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo, Halmahera Barat, Maluku Utara

Setelah lewat hutan-hutan eh tiba-tiba langsung disuguhi pemandangan seperti ini. Hai semua. Ketemu lagi pada postingan baru ini. Jadi ceritanya tuh waktu liburan di Jailolo di Halmahera Barat selama beberapa hari aku lanjut lagi ke kota Tobelo di Halmahera Utara. Aksesnya kalau dari Jailolo cuma bisa lewat darat.  Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo ditempuh selama empat jam. Hehehe. Kalo kata warga lokal sih itu lama banget yah perjalanan darat itu tapi kalo buatku sih oke-oke aja. Malah gak kerasa lama tuh mungkin karena baru pertama kali menempun jalan darat kali ya. Jalan raya sudah sangat bagus loh. Lebar dan beraspal. Jalanan cukup lengang. Aspal mulus dan tidak bolong-bolong. Udara juga masih segar namun sayangnya belum terpasang fasilitas lampu jalan disisi kiri dan kanan jalan. Waktu itu aku naik mobil travel dari Jailolo ke Tobelo dan kebetulan supir travelnya ya tetangga sendiri dirumah Jailolo jadi ga takut ketinggalan mobil. Ohya satu lagi

Baju Barong Tagalog Pakaian Tradisional Pria Filipina

Barong Tagalog, pakaian pria nasional di Filipina. Sejarah :  Saat pendudukan lebih dari 300 tahun oleh Spanyol di Filipina (1561-1889) penduduk pria lokal Filipina wajib memakai baju yang sekarang dinamakan Barong Tagalog.  Barong Tagalog adalah baju pria berkerah yang tidak dimasukkan kedalam celana, tidak berkantung juga transparan / tembus pandang.  Baju ini dimaksudkan untuk mencegah orang Filipina menyembunyikan sesuatu dalam kantong bajunya, entah barang curian atau senjata tajam. Spanyol mewajibkan pemakaian baju ini kepada semua orang Filipina tanpa peduli tingginya jabatan mereka di masyarakat guna menunjukkan perbedaan antara orang Spanyol yang kaya raya dengan penduduk miskin Filipina.  Setelah Filipina merdeka, presiden mereka Manuel Quezon mempopulerkan pemakaian baju ini. Sebelumnya baju ini identik dengan kelas bawah. Ketika dipopulerkan oleh presiden dengan cara selalu memakai baju ini pada acara resmi kenegaraan maka baju ini pun semaki