Langsung ke konten utama

Jalan sore naik bukit & melipir ke pelabuhan Semayang Balikpapan

 Balikpapan dan bukit-bukitnya.

Kontur yang berbukit membuat banyak rumah-rumah warga dibangun di tempat yang tinggi.


Berdampingan dengan hutan kota di seberang pelabuhan Semayang Balikpapan ada sebuah bukit yang layak dijadikan tempat jalan sore, jalan pagi atau jogging. Nama area itu adalah Kompleks Pelayaran, jalan masuknya persis disamping kantor Pelni dan kantor Pelindo IV.


Kantor Pelni cab. Balikpapan

Di dalamnya tentu saja ada banyak perumahan dinas Pelindo IV dan juga rumah-rumah warga biasa.

Yang cukup membuatku seneng jalan kaki disini adalah tempatnya tidak terlalu banyak orang yang tahu, relatif tersembunyi, banyak pepohonan dan berbukit-bukit. Rumah-rumah di atas bukit itu dari kejauhan mirip seperti di Rio de Janeiro, Brazil. Haha.


Jalan di kampung berbukit di Balikpapan.

Serius deh. Lumayan membuat kaki berotot kalau sering bolak-balik dari bawah ke atas kompleks ini dengan berjalan kaki. Ujung dari kompleks ini sebenarnya gang buntu kalau pakai kendaraan bermotor, ada sih jalan tikus tapi dengan berjalan kaki yg tembus ke rumah dinas Pertamina RU-V cuma semenjak pandemi Covid-19 akses tsb ditutup entah sampai kapan.


Rumah dinas Pertamina RU V. Seru kali ya bangun tidur keluar rumah liat beginian.


Epik ya suasananya.


Di kompleks Gunung Dubbs Pertamina RU V, nama pulau dijadikan nama jalan.


Corak awan yg unik.

Terlihat teluk Balikpapan dari kompleks pelayaran.

Selesai jalan sore dari kompleks ini, kami turun lagi kebawah menuju pelabuhan Semayang. Kali ini masuknya lewat jalur kendaraan kargo/barang. 

Di gerbangnya sih ada penjaganya, namun beruntung saat kami melintas tidak ada larangan atau dicegat petugas. 

Niat kami sih karena penasaran seperti apa ya dalamnya, jadi kami lanjut berjalan kaki kesitu.

Cuma ada dermaga yang sedang diperbaiki minor kayak menambal lantai semen yg retak-retak, pengecatan fasilitas pelabuhan yang sudah usang.

Ada banyak orang yang memancing juga disitu. Semua sibuk dalam diam masing-masing dengan umpan dan pancingnya.


Ini kami di sore hari.

Ada juga para pesepeda yang mampir kesini buat foto-posting sosmed-pulang.

Area dermaga ini juga sangat bersih, bebas dari sampah plastik bekas makanan, minuman botol plastik atau kardus-kardus bekas.

Saat kami kesana kebetulan menjelang Agustusan jadi saat itu dipasang bendera merah-putih yang besar sekali.


Ga boleh mancing ikan yaa gaes.


Pelabuhan Semayang Balikpapan


Pulau Tukung, banyak cerita misteri disitu.


Kapal pandu yg membantu kapal besar bersandar dan bertolak dari pelabuhan.


Ujung dermaga pelabuhan Semayang.


Tolong jaga kebersihan ya.


Ikan buntal yg katanya beracun ditinggal begitu saja oleh pemancing disini.


RIP ikan buntal.


Ruang tunggu pelabuhan Semayang Balikpapan.


Stasiun Pasang Surut milik Negara.

Garbarata untuk naik-turun penumpang kapal.



Bendera pusaka.


ODOL.


Bendera Raksasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berlayar dengan kapal KM. Labobar dari Balikpapan - Pantoloan - Bitung - Ternate (Part 1)

Pelabuhan Semayang Balikpapan Hai semuanya kali ini aku menulis tentang pengalamanku ketika pergi berlayar menuju Ternate dari kotaku Balikpapan dengan kapal KM Labobar Lah kok bisa ya naik kapal? emang liburnya berapa lama? terus kok bisa pas jadwal libur dengan jadwal kapal? Hehe akan kuceritakan asal muasal kenapa aku bisa pergi liburan dengan berlayar bersama KM. Labobar. Jadi pada akhir Januari 2019 itu aku sudah bisa libur selama 14 hari kalender (2 minggu).  Bingung kan mau libur pergi kemana. Mau pulang ke Samarinda ah terlalu sering dan sudah biasa. Gak perlu nunggu libur panjang kan aku bisa pulang ke Samarinda. Terus cek-cek lagi jadwal ke Bongao, Tawi-Tawi (Filipina) via Sandakan Malaysia kok menarik yaaa.. eh gak taunya dekat hari libur tiba-tiba di berita muncul kabar bahwa di daerah Sandakan khususnya Filipina bagian selatan lagi ricuh akibat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Filipina. Ada pengeboman rumah ibadah s

Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo, Halmahera Barat, Maluku Utara

Setelah lewat hutan-hutan eh tiba-tiba langsung disuguhi pemandangan seperti ini. Hai semua. Ketemu lagi pada postingan baru ini. Jadi ceritanya tuh waktu liburan di Jailolo di Halmahera Barat selama beberapa hari aku lanjut lagi ke kota Tobelo di Halmahera Utara. Aksesnya kalau dari Jailolo cuma bisa lewat darat.  Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo ditempuh selama empat jam. Hehehe. Kalo kata warga lokal sih itu lama banget yah perjalanan darat itu tapi kalo buatku sih oke-oke aja. Malah gak kerasa lama tuh mungkin karena baru pertama kali menempun jalan darat kali ya. Jalan raya sudah sangat bagus loh. Lebar dan beraspal. Jalanan cukup lengang. Aspal mulus dan tidak bolong-bolong. Udara juga masih segar namun sayangnya belum terpasang fasilitas lampu jalan disisi kiri dan kanan jalan. Waktu itu aku naik mobil travel dari Jailolo ke Tobelo dan kebetulan supir travelnya ya tetangga sendiri dirumah Jailolo jadi ga takut ketinggalan mobil. Ohya satu lagi

Baju Barong Tagalog Pakaian Tradisional Pria Filipina

Barong Tagalog, pakaian pria nasional di Filipina. Sejarah :  Saat pendudukan lebih dari 300 tahun oleh Spanyol di Filipina (1561-1889) penduduk pria lokal Filipina wajib memakai baju yang sekarang dinamakan Barong Tagalog.  Barong Tagalog adalah baju pria berkerah yang tidak dimasukkan kedalam celana, tidak berkantung juga transparan / tembus pandang.  Baju ini dimaksudkan untuk mencegah orang Filipina menyembunyikan sesuatu dalam kantong bajunya, entah barang curian atau senjata tajam. Spanyol mewajibkan pemakaian baju ini kepada semua orang Filipina tanpa peduli tingginya jabatan mereka di masyarakat guna menunjukkan perbedaan antara orang Spanyol yang kaya raya dengan penduduk miskin Filipina.  Setelah Filipina merdeka, presiden mereka Manuel Quezon mempopulerkan pemakaian baju ini. Sebelumnya baju ini identik dengan kelas bawah. Ketika dipopulerkan oleh presiden dengan cara selalu memakai baju ini pada acara resmi kenegaraan maka baju ini pun semaki