Sehari Menjadi Pelaut.
Aku pernah dengar pribahasa yang bunyinya "Di laut setiap orang adalah saudara". Nah barangkali selama ini kalimat ini ga bisa kupahami secara nyata karena ga merasakan hidup dan bekerja di laut selama ini.
Kebetulan beberapa waktu yg lalu aku berkesempatan merasakan menjadi pelaut walau sehari aja.
Semua orang saling menolong kalau lagi di atas kapal, sama-sama mengatasi kesulitan jika kapal terkena amukan badai. Mabuk laut ohh jelasnya, ku tak tahaaaan dengan ombak yang ganas dan cuaca ekstrim dari panas menjadi hujan badai.
Meski perut sudah terisi tetap saja yg namanya mabuk laut ga bisa terhindarkan. Mereka para pelaut itupun bercerita pengalaman berlayar yg pertama kali juga mabuk laut. Tubuh perlu penyesuaian begitu kata mereka. Tiap orang berbeda durasi penyesuaian dengan kondisi lautan, ada yang hitungan hari sudah terbiasa, ada juga yang berbulan-bulan.
Yang namanya pelaut mereka juga sudah pasti terdidik dengan baik saat sekolah / masa pendidikan. Ada banyak hal teknis yang baru kutau setelah ikut berlayar bersama mereka.
Ada berbagai jenis bendera dengan berbagai artinya, ada juga buku pasang surut air laut di seluruh Indonesia (berlaku selama 1 tahun) yang dibuat oleh TNI-AL. Disitu dijelaskan setiap jam kenaikan muka air laut dan surutnya. Lumayan akurat kok.
Apakah aku masih berminat kerja di kapal yag jauh dari keluarga, terombang-ambing di lautan dan ga pulang-pulang? *hmm mungkin saja.
 |
Pagi hari di atas kapal.
|
 |
Buku pasang surut yg kumaksud tadi.
|
 |
Ruang kemudi kapal. |
 |
Cuaca mendadak buruk.
|
 |
Terlihat tenang tapi arus bawah lautnya waww kencang.
|
 |
Mas-mas yg lagi jaga ruang kemudi.
|
 |
Hobi menanam bunga juga dong.
|
 |
Fasilitas migas lepas pantai yg dilewati.
|
 |
Barge untuk eksplorasi cadangan migas.
|
Thanks for visiting my blog.
Komentar
Posting Komentar