Langsung ke konten utama

Aku cinta (kain tenun) Alor.

Aku cinta Alor!


Haaaah cinta darimana ? emang pernah kesana?

Enggak sih aku memang belum pernah kesana tapi aku merasa wahhhh ternyata selama ini ada yaa daerah yang bernama Alor. Aku kemana ajaa kok sampe seusia ini baru kali ini aku mendengar dan melihat langsung kepingan yang bernama Alor tersebut.


Ada yang tau gak kalian dimanakah Alor itu?

Alor rupanya berada di sebuah pulau sendiri di daerah Flores, NTT. Kalau melihat gambar di Google, daerah Alor merupakan daerah yang dekat dengan laut alias pesisir, dan pantainya indah-indah dengan gradasi warna biru muda - biru tua, hijau  muda - hijau tua.

Lantas kenapa aku cinta dengan Alor?
Jadi ceritanya aku pernah secara kebetulan diminta untuk bernyanyi didalam sebuah acara ibadah di sebuah gereja di kota Balikpapan, nah kebetulan di gereja tersebut sedang ada bazaar dalam rangka untuk menghimpun dana untuk keperluan umat di daerah Kalimantan Utara sana yang juga merupakan bagian dari gereja yang ada di Balikpapan.

Aku awalnya menduga pasti umat yang memerlukan dana merupakan umat penduduk lokal yang notabene merupakan suku asli Kalimantan yakni Dayak.

Ketika ibadah selesai, sayang dooong rasanya kalau langsung pulang, secara rumah saya jauh banget dari gereja tersebut jadi sayang banget rasanya kalau cepat-cepat pulang kerumah dan juga saat itu sedang ada bazaar kali aja ada yang bisa dibeli kan.

Bazaar nya sih standar ya dalam artian barang yang dijual ya kalau bukan jajanan, makanan berat ya sembako. Cara belinya adalah kita harus menukarkan uang dengan sejumlah voucer / kupon bazaar di meja khusus. Nanti kupon yang kita dapat tinggal diserahkan ke ibu-ibu / mas-mas penjaga stand yang ingin kita beli dagangannya. Intinya ga ada yang namanya bayar pakai uang tunai ke penjaga stand bazaar.

Sambil muter-muter liat sekeliling aku memperhatikan sekelompok anak-anak kecil berpakaian adat yang entah aku sendiri gak ada bayangan dari mana asalnya mereka. Aku perhatikan pakaian yang mereka pakai kok bagus dan unik yaa. Nahh semakin penasaran lah aku hingga tak lama kemudian terdengar suara dari pengeras yang mengatakan sebentar lagi akan ada pertunjukkan tarian yang akan dibawakan umat dari Kaltara tersebut.

Akhirnya aku putuskan bahwa aku ga akan pulang sebelum melihat pertunjukkan yang dimaksud.

Rupanya anak-anak kecil tadi adalah penduduk / keturunan asal Alor yang telah lama tinggal dan menetap di daerah Kaltara. Waah tadi kirain suku dayak ternyata bukan.

Tidak banyak informasi yang bisa saya dapat, waktu berbincang-bincang pun mereka cuma bilang kalau Alor itu sebuah pulau di NTT dan kebetulan mereka (orang tua anak-anak tadi) sedang terburu-buru persiapan untuk tampil.

Saya suka banget dengan kain tenun mereka, entah warnanya, motifnya dan ditambah lagi proses pembuatannya yang butuh waktu yang tidak sebentar. Pastinya perlu kesabaran, ketelitian, keuletan dalam membuat sehelai kain tenun tersebut.

Seperti hidup yang harus dijalani dengan sabar, ikhlas dan ulet. Memang pahit rasanya menjalani kesabaran hidup. Tapi pasti buahnya manis. Seperti kain tenun tadi, waktu proses pembuatan pun sehelai benang disatukan dengan benang lainnya, dicungkil, dirapatkan, disulam belum lagi penenunnya harus sabar menyambung benang yang putus (mungkin).

Saya takjub bagaimana bisa mereka (penenun) membuat pola yang begitu rumit tanpa memakai manual book maupun rancang desain namun motif yang dibuat sangat indah!

Ahhh andai saja saya berkesempatan mengunjungi langsung Alor.

Tidak cuma kain Batik, kini saya jatuh cinta dengan kain tenun dari timur Indonesia, Alor.....





Anak-anak kecik yang sedari tadi membuat saya penasaran.


Cantik ya mereka.


Sesaat sebelum tampil.


Ayoo silahkan menyumbang dana untuk mereka.


Bapak-bapak sedang memberi "sawer".


Duit "Sawer" diselipkan di ikat kepala penari. Hihi unik ya.


Aahhh kainnya di pamerin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berlayar dengan kapal KM. Labobar dari Balikpapan - Pantoloan - Bitung - Ternate (Part 1)

Pelabuhan Semayang Balikpapan Hai semuanya kali ini aku menulis tentang pengalamanku ketika pergi berlayar menuju Ternate dari kotaku Balikpapan dengan kapal KM Labobar Lah kok bisa ya naik kapal? emang liburnya berapa lama? terus kok bisa pas jadwal libur dengan jadwal kapal? Hehe akan kuceritakan asal muasal kenapa aku bisa pergi liburan dengan berlayar bersama KM. Labobar. Jadi pada akhir Januari 2019 itu aku sudah bisa libur selama 14 hari kalender (2 minggu).  Bingung kan mau libur pergi kemana. Mau pulang ke Samarinda ah terlalu sering dan sudah biasa. Gak perlu nunggu libur panjang kan aku bisa pulang ke Samarinda. Terus cek-cek lagi jadwal ke Bongao, Tawi-Tawi (Filipina) via Sandakan Malaysia kok menarik yaaa.. eh gak taunya dekat hari libur tiba-tiba di berita muncul kabar bahwa di daerah Sandakan khususnya Filipina bagian selatan lagi ricuh akibat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Filipina. Ada pengeboman rumah ibadah s

Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo, Halmahera Barat, Maluku Utara

Setelah lewat hutan-hutan eh tiba-tiba langsung disuguhi pemandangan seperti ini. Hai semua. Ketemu lagi pada postingan baru ini. Jadi ceritanya tuh waktu liburan di Jailolo di Halmahera Barat selama beberapa hari aku lanjut lagi ke kota Tobelo di Halmahera Utara. Aksesnya kalau dari Jailolo cuma bisa lewat darat.  Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo ditempuh selama empat jam. Hehehe. Kalo kata warga lokal sih itu lama banget yah perjalanan darat itu tapi kalo buatku sih oke-oke aja. Malah gak kerasa lama tuh mungkin karena baru pertama kali menempun jalan darat kali ya. Jalan raya sudah sangat bagus loh. Lebar dan beraspal. Jalanan cukup lengang. Aspal mulus dan tidak bolong-bolong. Udara juga masih segar namun sayangnya belum terpasang fasilitas lampu jalan disisi kiri dan kanan jalan. Waktu itu aku naik mobil travel dari Jailolo ke Tobelo dan kebetulan supir travelnya ya tetangga sendiri dirumah Jailolo jadi ga takut ketinggalan mobil. Ohya satu lagi

Baju Barong Tagalog Pakaian Tradisional Pria Filipina

Barong Tagalog, pakaian pria nasional di Filipina. Sejarah :  Saat pendudukan lebih dari 300 tahun oleh Spanyol di Filipina (1561-1889) penduduk pria lokal Filipina wajib memakai baju yang sekarang dinamakan Barong Tagalog.  Barong Tagalog adalah baju pria berkerah yang tidak dimasukkan kedalam celana, tidak berkantung juga transparan / tembus pandang.  Baju ini dimaksudkan untuk mencegah orang Filipina menyembunyikan sesuatu dalam kantong bajunya, entah barang curian atau senjata tajam. Spanyol mewajibkan pemakaian baju ini kepada semua orang Filipina tanpa peduli tingginya jabatan mereka di masyarakat guna menunjukkan perbedaan antara orang Spanyol yang kaya raya dengan penduduk miskin Filipina.  Setelah Filipina merdeka, presiden mereka Manuel Quezon mempopulerkan pemakaian baju ini. Sebelumnya baju ini identik dengan kelas bawah. Ketika dipopulerkan oleh presiden dengan cara selalu memakai baju ini pada acara resmi kenegaraan maka baju ini pun semaki