Langsung ke konten utama

Bersatu dengan alam, Pantai Tanah Merah, Tanjung Harapan Samboja, Kaltim.


Selamat soreeeee semuanya.

Bertemu lagi dalam tulisan ini, saat ini saya sedang dalam fase produktif untuk menulis, suka dehh kalo gini terus, mendapat semangat dan ilham untuk menggoreskan kisah dan pengalamanku. Dibuang sayang lah ya istilahnya, daripada hanya menguap begitu saja kenapa tidak aku tuliskan lagi disini.

Kali ini saya akan membagikan pengalaman saya ketika menginap bersama di bibir pantai Tanah Merah, Tanjung Harapan, Samboja Kutai Kartanegara, Kaltim.

Dari kota Balikpapan sendiri menuju tempat itu sekitar 1-1,5 jam perjalanan darat, ada dua jalur yang dapat ditempuh, yang pertama bisa lewat ruas jalan menuju pantai Manggar dan yang kedua bisa melewati jalan provinsi Balikpapan - Samarinda.

Saya pribadi sih lebih suka lewat ruas jalan menuju pantai Manggar, selain karena rumah saya kebetulan dekat dengan jalur itu, di jalur itu juga tidak terlalu padat kendaraan besar-besar seperti bis dan truk. Jika melewati jalan satunya, jalan provinsi Balikpapan - Samarinda maka akan mudah ditemui kendaraan besar-besar tadi melintas dengan kecepatan yang kadang-kadang terlampau laju. Ngeri dah, rawan kecelakaan juga.

Adalah saya dan beberapa teman yang senang berpetualang dan menginap / camping di alam bebas namun bukan merupakan kelompok profesional, hanya amatiran dan tidak menggunakan peralatan / gear yang mumpuni. Cukup menyewa tenda & kompor portable di tempat penyewaan peralatan mendaki.

Kebetulan saat itu sedang ada tanggal merah yang memungkinkan kami untuk menginap selama 2 hari 1 malam. Yesss!!! Akhirnya, kesampaian juga kan wacana menginap di alam.

Kebetulan salah satu teman kami, memiliki sanak family yang kebetulan tinggal di daerah pantai Tanah Merah tersebut, sehingga sedikit banyak kami merasa aman karena pastinya keberadaan kami terpantau dan terlaporkan kepada ketua RT setempat dan kami pun sangat-sangat terbantu jika membutuhkan sesuatu seperti : Air galon yang sudah habis, bumbu dapur yang kelupaan dibawa, atau bahkan butuh pisau dapur dan parang.

Maklum selain tempat menginap tersebut jauh dari keramaian, kami juga rasanya malas sekali kalau harus pergi keluar lagi ke jalan utama untuk mencari kekurangan bahan yang diperlukan.

Pantai Tanah Merah sendiri lumayan ramai didatangi pengunjung pada hari-hari tertentu semisal akhir pekan atau libur tanggal merah. Biasanya sih yang datang penduduk sekitar, tapi tak jarang dari luar kota juga lumayan banyak.

Nah spot menginap kami itu terpisah jauh dari tempat / keramaian umum pengunjung tadi. Sehingga selain lebih terjaga privasi, kami juga tidak perlu was-was terganggu dengan kehadiran pengunjung mereka. Hal gak enaknya adalah adanya perasaan ngeri-ngeri gitu karena jauh dari keramaian, takut terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Yahhh namanya juga di alam bebas, apapun bisa terjadi tinggal bagaimana dari kita-nya aja yang mempersiapkan diri jika terjadi sesuatu.


Okeh setelah menempuh perjalanan darat yang melelahkan jiwa dan pantat raga, akhirnya kami tiba juga di lokasi perkemahan, di lokasi itu ada beberapa bangunan kamar mandi yang sangat tidak terawat, katanya dulu memang dilokasi itu ditujukan untuk perkemahan, namun entah mengapa saat ini hal itu tidak terealisasikan. Dari Balikpapan sendiri kami berangkat tengah hari, sehingga tiba dilokasi hari sudah sore keemasan manja gitu.

Untuk air bersih tidak perlu khawatir, ada bak penampungan air yang berada tepat di sebelah bangunan kamar mandi yang tidak terawat itu. Air nya selalu mengalir malah, ga tau deh sumbernya dari mana apakah dari mata air atau dari air pipa PDAM. Sayang banget mengalir terus ga bisa dimatiin, kebuang-buang gitu aja, masa iya sih harus mandi terus supaya airnya ga kebuang percuma? yang ada malah masuk angin, haha.

Setelah menentukan dilokasi mana akan di dirikan tenda, yang laki-laki mulai menebas semak belukar membersihkan tanah sekitar, yang perempuannya ngapain aja? mereka tugasnya rapihin barang bawaan yang dibawa dari Balikpapan, seperti jatah ransum, tas-tas kami, dsb. Rumpi ga sih mereka.

Setelah tanah sekitar bersih dari semak belukar dan dipastikan aman baru dehh kita mendirikan tenda. Ada yang memasang pasak tenda, ada yang memberi aba-aba dan... ada yang sibuk berfoto ria. Huuuuu dasar.

Beberapa orang ditugaskan untuk mencari kayu bakar selagi kami mendirikan tenda. Aku masuk grup yang mana? ya jelas ikut mencari kayu bakar laaaah, sekalian liat-liat kondisi sekitar kayak gimana.

Ada hal yang aneh, ketika kami berjalan mencari kayu bakar, kami menemukan kejanggalan! Ada beberapa bungkus mie instan dan beberapa bungkus garam yang tersusun rapi di salah satu spot. Padahal disekitar situ tidak ada siapapun juga. Ngeri gak sih?

Ada salah satu temen (cewek) yang ikut mencari kayu bakar yang spontan aja mau ngambil itu mi instan dan garam yang tersusun rapi.Gileeee! naluri ogah rugi-nya keluar dah. Hahha, langsung aja kita cegah. Jangaaaan diambil. Dia sih agak keberatan kenapa ga boleh diambil, ya iyalah logikanya gila aja kok bisa ada benda gituan di tempat sepi yang jarang ada orang begini? udah lebih baik jauh-jauh dari tempat itu.

 Dan kamipun pergi ke arah yang berlawanan untuk mencari kayu bakar untuk digunakan sebagai penerangan sekaligus penghangat sekaligus untuk memasak. Kenapa kok untuk memasak? kan tadi sudah nyewa kompor portable? Karena kami perlu memasak beberapa hal sekaligus kayak masak nasi sekalian ama tahu-tempe dan ayam goreng.

Setelah menebas dahan pohon kering dan mengais-ngais ranting disekitar dan dirasa cukup, tugas selanjutnya adalah..... membawa dahan dan ranting tersebut ke area tenda. Duhhh sepintas terlihat sih ini sedikit doang dan tidak berat, rupanya..... beraaaaaaaaaaaaaaaaaaaat bgt angkat itu dahan.

akhirnya kita memanggil yang lain untuk bantuin membawa ranting dan dahan buat keperluan nanti. Fiuhh. Case closed!

Ketika malam tiba, nyamuk mulai berdatangan.. Itulah gunanya api unggun, asapnya mampu menghalau nyamuk sejauh mungkin *lebay. Kekurangannya adalah napas menjadi sesak dan mata menjadi perih karena asepnya.

Api unggun sudah jadi dengan segala daya dan upaya untuk menyalakannya. Namanya juga amatiran. Nyalain api butuh waktu yang tidak sebentar, perlu kesabaran ekstra. Ngomel aja ga cukup untuk nyalain apinya, kudu kerjasama antar teman, ada yang bertugas mengipasi api, ada yang bertugas menumpuk ranting dan dedaunan kering, bahkan ada yang bertugas menyalakan api pakai korek.

Cewek-cewek sibuk cuci beras, potong tahu, tempe, terong, ayam dan sayuran untuk dimasak. Sibuk banget mereka mulutnya ikutan ngoceh. Pusing deket-deket mereka, mendadak ganas kalo sudah berurusan dengan makanan.

Ketika memasak pun teutetup aja pada direcokin, dikomentarin terus dengan kata-kata "jangan begitu harusnya begini, ihh kok kamu gitu sih atau kamu salahhh bukan begini sini aku aja yang ngerjain".

Namanya juga camping makanya peralatan memasak dan makan pun gak ada bagus2nya dan gak lengkap, harus pandai-pandai memanfaatkan alat yang ada. Sendok dijadiin alat serba bisa, selain untuk mengaduk minuman juga dipakai sebagai pengganti sutil masak.

Nasi belum matang sempurna udah di cerewetin kok lama banget sihhhhhh masaknya. Kesalahan kita adalah semua bahan mentah yang kita bawa dari Balikpapan ga ada yang diproses dulu, kayak misalnya sayuran belum dicuci, belum dipotongin, jadinya kita baru bersihin semuanya saat di area kemah. Cukup menyita waktu juga hal-hal begitu. Harusnya waktu yang ada bisa dialihkan ke kegiatan lain.

 Setelah acara masak nasi selesai, lauk tahu tempe terong dan ayam goreng juga telah siap. Spontan dehh langsung rebutan makan. Kesalahan nomor 2 : kita-kita ga ada yang membawa wadah makan seperti piring atau kotak nasi. Ihhh jadi makannya pake apa dong? Ambil daun simpur yang lebar-lebar itu bahkan ada yang memakai daun ketapang sebagai alas nasi. Hahaha lapar emang sanggup meningkatkan kreatifitas. Tapi ada satu orang yang ngeselin, doi bawa kotak nasi pribadi dan sendok makan pribadi. Whaaat? kok dia gitu ya gak mau ngingetin kita soal ginian? tau gitu kan kita semua pasti akan mempersiapkan dari rumah. Ah syudalaah.  


Setelah acara makan selesai lanjut lah acara bebas cerita komedi dan saling menggibah... hahah teuteup yaa gossip everywhere.


Malam semakin larut dan tawa semakin lepas dan kencang. Hahahahehehehhihiii. Puassss gak ada tetangga yang merasa keganggu dan nggak ada suara suara seperti "ssssssssssssshhhh jangan ribut".

Kegelapan total disekeliling kita sempet membuat beberapa orang takut, tapi ya syukurnya ga ada kejadian apa-apa.

Bintang nampak gemerlapan dari sini, indah sekali melihat bintang bertaburan, tidur diatas pasir pantai dan... uniknya dipantai ini angin tidak terlalu kencang dan ombak tidak terlalu besar. Kayak bukan di pinggir pantai deh, serasa dipinggir danau malahan.


Ahh begitu banyak nikmat yang aku dustakan rupanya. Secangkir teh panas, hangatnya api unggun, berisiknya suara orang-orang, sepiring nasi belum tanak, kaki yang berpasir dan aroma laut.... Hmmm benar-benar menenangkan.

Semakin larut malam semakin banyak pula yang tertidur, perempuannya malah banyak yang tidur diluar tenda, tidur disamping api unggun. Lebih hangat dan asik kata mereka. Sesekali terbangun karena nyamuk atau kedinginan adalah hal biasa.

Menjelang dini hari barulah kami semua tertidur........


Esok hari datang, langit mulai merekah, fajar mulai tampak, kabut bermunculan dimana-mana, air laut mulai pasang lagi.

Kami pun terbangun tergoda bermain air laut atau berenang.

Wacana senam pagi tidak terlaksana. Entah karena malas atau mungkin karena tidak adanya musik.

Segarnya udara pagi hari di pinggir pantai, ahhh aku terhanyut.

Agenda hari ini tidak banyak, hanya mempersiapkan makan pagi, mandi dan membereskan barang untuk kemudian bersiap pulang.

Makan pagi kali ini kami membuat bubur manado... Kompor portable sudah kehabisan bahan bakar, sehingga kami mengandalkan kayu bakar. Syukur semalam tidak hujan, sehingga kami tidak kerepotan mengungsi dan tidak kesusahan mencari kayu bakar.

Kenapa buat bubur manado? karena simpel sekali membuatnya dan juga stok beras menipis. Yahh namanya juga serba terbatas. Bubur sudah jadi lagi-lagi kami memakannya menggunakan piring daun simpur dan daun ketapang. Makanannya beraroma asap yang sungguh tidak menggoda selera. Hahaha tapi karena lapar, yaweslah makan aja. Yahh namanya juga masaknya menggunakan kayu bakar.

 Makan pagi selesai, tibalah waktu mandi. ini nih serunya mandi bareng-bareng di bak tampungan air. Sambil mandi sambil bercanda-canda. siram-siram air macam bidadari aja. waktu cowok-cowok mandi, yang perempuan bertugas untuk beresin semuanya. hahaha gantiaaan.

Selesai mandi,selesai berberes barang. Waktunya pulang...

Yang suka aneh itu tiap kali selesai camping dan membereskan tenda selalu aja pasaknya kurang, ga tau deh kemana, uda dicariin tetep aja kurang. Padahal waktu dipasang jumlahnya genap.

Perjalanan pulang selalu menyebalkan, baju kotor nambah, bawaan makin banyak (ketambahan sampah hasil menginap), lelah fisik, mengantuk karena kurang tidur, lapar ditambah lagi perasaan "besok masuk kerja (lagi)".

Tapi itu bukanlah penghalang, paling tidak pengalaman ini nantinya toh bisa bisa aku ceritakan kelak dan aku kenang. Karena nanti semakin bertambahnya usia dan sudah berkeluarga tentunya momen kayak gini yang akan dirindukan dan didambakan.

Balikpapan aku kembali pulang dan beraktifitas lagi....



Terimakasih banyak temen-temenku atas ajakan berkemah di pinggir pantai Tanah Merah.



Seusai mengisi bahan bakar, lanjuuut.

Ayoo cepat pasang tendanya.

Sebelum hari gelap buruan tendanya dipasang.

Yeeeah.

Iseng saat malam.

Tertangkap basah tidur berdua-duaan.

Esok harinya kumpulin ranting kering buat masak yaa.

Buah apaan ini kira-kira?

Mau diangkat berat, yaudah ditarik aja yaa buat bahan bakar memasak.

Tunggu yaa masih dipotongin dahannya.

Lama banget bu masaknya, laaaapar.

Cewek ini paling cerewet soal kebersihan, suka ngomel dia.

Duduk santai di hammock.

Mana ada ikan di pinggir pantai pak?

Sang penebas dahan pohon.
 



Abaikan isi tendanya.

Nemenin cewek-cewek masak.

Sudaaah mateng belum?

Ayo cepet dirapiin tendanya.

Weii bantuiin dong.

Final check sebelum dihidangkan

Makan bubur pakai alas daun simpur, sendoknya? ya dari daun ini juga tapi dilipet-lipet.

Neng kalo makan tuh duduk masa jongkok? haha

Selesai mandi, yuk kita pulang.
Saatnya kembali ke kota Balikpapan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berlayar dengan kapal KM. Labobar dari Balikpapan - Pantoloan - Bitung - Ternate (Part 1)

Pelabuhan Semayang Balikpapan Hai semuanya kali ini aku menulis tentang pengalamanku ketika pergi berlayar menuju Ternate dari kotaku Balikpapan dengan kapal KM Labobar Lah kok bisa ya naik kapal? emang liburnya berapa lama? terus kok bisa pas jadwal libur dengan jadwal kapal? Hehe akan kuceritakan asal muasal kenapa aku bisa pergi liburan dengan berlayar bersama KM. Labobar. Jadi pada akhir Januari 2019 itu aku sudah bisa libur selama 14 hari kalender (2 minggu).  Bingung kan mau libur pergi kemana. Mau pulang ke Samarinda ah terlalu sering dan sudah biasa. Gak perlu nunggu libur panjang kan aku bisa pulang ke Samarinda. Terus cek-cek lagi jadwal ke Bongao, Tawi-Tawi (Filipina) via Sandakan Malaysia kok menarik yaaa.. eh gak taunya dekat hari libur tiba-tiba di berita muncul kabar bahwa di daerah Sandakan khususnya Filipina bagian selatan lagi ricuh akibat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Filipina. Ada pengeboman rumah ibadah s

Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo, Halmahera Barat, Maluku Utara

Setelah lewat hutan-hutan eh tiba-tiba langsung disuguhi pemandangan seperti ini. Hai semua. Ketemu lagi pada postingan baru ini. Jadi ceritanya tuh waktu liburan di Jailolo di Halmahera Barat selama beberapa hari aku lanjut lagi ke kota Tobelo di Halmahera Utara. Aksesnya kalau dari Jailolo cuma bisa lewat darat.  Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo ditempuh selama empat jam. Hehehe. Kalo kata warga lokal sih itu lama banget yah perjalanan darat itu tapi kalo buatku sih oke-oke aja. Malah gak kerasa lama tuh mungkin karena baru pertama kali menempun jalan darat kali ya. Jalan raya sudah sangat bagus loh. Lebar dan beraspal. Jalanan cukup lengang. Aspal mulus dan tidak bolong-bolong. Udara juga masih segar namun sayangnya belum terpasang fasilitas lampu jalan disisi kiri dan kanan jalan. Waktu itu aku naik mobil travel dari Jailolo ke Tobelo dan kebetulan supir travelnya ya tetangga sendiri dirumah Jailolo jadi ga takut ketinggalan mobil. Ohya satu lagi

Baju Barong Tagalog Pakaian Tradisional Pria Filipina

Barong Tagalog, pakaian pria nasional di Filipina. Sejarah :  Saat pendudukan lebih dari 300 tahun oleh Spanyol di Filipina (1561-1889) penduduk pria lokal Filipina wajib memakai baju yang sekarang dinamakan Barong Tagalog.  Barong Tagalog adalah baju pria berkerah yang tidak dimasukkan kedalam celana, tidak berkantung juga transparan / tembus pandang.  Baju ini dimaksudkan untuk mencegah orang Filipina menyembunyikan sesuatu dalam kantong bajunya, entah barang curian atau senjata tajam. Spanyol mewajibkan pemakaian baju ini kepada semua orang Filipina tanpa peduli tingginya jabatan mereka di masyarakat guna menunjukkan perbedaan antara orang Spanyol yang kaya raya dengan penduduk miskin Filipina.  Setelah Filipina merdeka, presiden mereka Manuel Quezon mempopulerkan pemakaian baju ini. Sebelumnya baju ini identik dengan kelas bawah. Ketika dipopulerkan oleh presiden dengan cara selalu memakai baju ini pada acara resmi kenegaraan maka baju ini pun semaki