Langsung ke konten utama

Jogja Istimewa, Gereja Ganjuran, bertemu Yesus dalam wajah Jawa.

Jogja istimewa

Hai hai hai hai semuanya.
Kali ini aku akan menulis sedikit tentang "Jogja Istimewa".

Dulu aku bingung apa maksud dari jargon istimewa tersebut sampai suatu ketika aku mengalami sendiri arti "Istimewa" tersebut.

Sudah lebih dari satu kali aku mengunjungi kota Jogjakarta, alasannya tak lain dan tak bukan karena ada adek saya yang sampai sekarang masih menetap di Jogjakarta semenjak kelulusan kuliahnya.

Jadi begitu saya sedang berada di pulau Jawa, sebisa mungkin saya menghampiri adek saya yang berada di Jogja tersebut. Mengingat banyaknya pilihan moda transportasi antar kota di pulau Jawa, rasanya sungguh sayang kalau tidak dimanfaatkan dengan baik. Sebelum ke Jogja saya berada di kota Surabaya karena ada acara keluarga sekaligus ajang jalan-jalan menjelajahi kota terdekat dengan menggunakan kereta api.

Karena keluarga yang di Surabaya pada sibuk semua dan sepertinya bukan tipikal petualang, jadinya saya pergi sendirian naik kereta menuju kota terdekat dari Surabaya tanpa ada tempat/tujuan yang telah direncanakan untuk dituju, semuanya mengalir begitu saja. Ada perasaan tenang ketika berjalan sendirian, aku lebih dapat merasakan sesuatu hal yang berbeda, yakni kepercayaan diri serta keberanian diri.

Dulu jangankan pergi jauh, pergi ke sebuah tempat yang dekat saja aku sering ragu, takut kikuk kalau ketemu orang, gengsi bertanya arah jalan, ga mau ribet dan suka ngeluh kalau jarak tempuh yang jauh, waktu perjalanan yang lama dan sederet keluhan-keluhan yang tidak penting.

Oke balik ke cerita awal, setelah tiba di Jogja dengan menggunakan kereta api dari Surabaya, saya dijemput oleh adik saya di stasiun Lempuyangan. Saya naik keretas ekonomi sehingga turunnya di stasiun tsb. Beda halnya jika menggunakan kereta eksekutif, penumpang akan diturunkan tepat di stasiun Tugu, pusat kota Jogjakarta.

Jogja memang istimewa, baik dari suasana kotanya yang masih mempertahankan suasana "Jawa" yang kental ditengah moderenisasi, makanannya, kreativitas warganya, kesultanan-nya, hingga akulturasi antara budaya Jawa dengan agama Katolik yang akan saya bahas pada tulisan kali ini.

Menurut sejarah, agama Katolik dibawa pertama kali ke Jawa Tengah ke daerah Muntilan, disitu diketahui awal mula penduduk Jawa menjadi pemeluk agama Katolik yang dibawa oleh bangsa Barat, yakni Kolonial Belanda.

Singkat cerita dahulu pada jaman kolonial sang pemilik perkebunan tebu di daerah Ganjuran,  Jawa Tengah adalah seorang Belanda yang selain aktif dalam mengajar agama Katolik, ia juga menyukai budaya Jawa. Hingga ia memasukkan unsur-unsur budaya dan kearifan lokal Jawa kedalam peribadatan Katolik.

Hingga kini asimilasi itu masih dapat disaksikan di Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran, Bambanglipuro, Bantul Jogjakarta.

Sebagai pengingat generasi masa mendatang.

Ketika itu saya niat sekali ingin sampai ketempat ini, hanya dengan bermodalkan google maps saya meluncur menuju tempat tersebut, sepanjang jalan suasana asri terbentang dikiri kanan, aku suka suasananya.

Tidak susah mencari tempat ini, selain berada di tepi jalan jalanan menuju tempat tsb juga tergolong mudah bahkan bagi orang yang belum pernah kesana. Puja dewa google maps

Begitu tiba di gerbang Gereja yang mirip gapura sebuah pura, saya melihat banyak ukiran rohani dalam gaya Jaya, seperti yang tergambar di relief candi Borobudur. Asimilasi budaya Jawa tampak nyata sekali disini, biasanya ukiran / pahatan religius Katolik selalu kebarat-baratan, namun tidak demikian disini, semuanya bergaya Jawa. Dan.... saya sangat suka sekali.


Rindang ya suasananya.

Tidak ada gua Maria, melainkan pendopo arca Maria yang menggendong Yesus.


Salah satu pemberhentian jalan salib, berukir Hindu-Jawa.


Tulisan Hanacaraka dibawah ukiran pemberhentian jalan salib.
 
 Dari jauh aku mendengar alunan iring-iringan gamelan / gendhing Jawa. Rupanya suara yang menenangkan ini berasal dari dalam bangunan Gereja, terdapat anak-anak kecil yang sepertinya kelas 1-3 SD. Mereka berlatih gamelan yang nantinya akan dilombakan pada tingkat nasional di kota Solo. 

Yah namanya juga anak-anak, terkadang suka ngambek kalo latihan, atau kadang suka ribut, suka gak konsen atau ada juga yang sibuk sendiri mukul-mukul instrumen gamelan tanpa memperdulikan sekitarnya, haha. Ibu pelatihnya juga kadang suka ngomel kalau ngajar, sabar ya buuk...


Anak-anak kecil berlatih Gamelan untuk mengikuti lomba nasional.


Gamelan yang meraka gunakan untuk berlatih pun biasanya digunakan juga untuk sarana pengiring musik saat beribadah. Wahh yang seperti ini benar-benar unik dan harus dilestarikan.

Ohya bangunan Gereja pun sepintas mirip bangunan punden / rumah joglo Jawa yang umum terdapat di Jawa, ukiran-ukiran kayu tiang penyangga khas Jawa, altar utama, arca rohani yang bergaya mirip sekali dengan patung Hindu-Jawa kuno, ukiran-ukiran tulisan Jawa hanacaraka yang berisi doa-doa, ibadah yang mempergunakan bahasa Jawa halus, alkitab pun berbahasa Jawa. Ahhh aku betah berlama-lama disini. 


Ukiran bergaya Jawa menghiasi Gereja Ganjuran.


Uhhh sungguh indah.

Gusti mboten sare.


Gedung Gereja yang setengah terbuka, aku suka.


Altar kecil disamping altar utama.



Arca Tuhan Yesus disamping altar utama.



Umumnya umat Katolik mempunyai buku panduan untuk bernyanyi yang dikenal sebagai buku "Puji Syukur" & "Madah Bakti", namun disini ada satu buku selain kedua buku diatas, yaitu "Kidung Adi", merupakan buku paduan umat Katolik dengan bahasa Jawa halus.

 

Karena menjadi seorang Katolik tidak berarti harus kebarat-baratan, baik meniru barat bahkan menjadi barat serta meninggalkan kearifan lokal kita sebagai bangsa yang kaya akan adat istiadatnya.

Gereja ini memiliki banyak gedung bangunan selain gedung Gereja.
Ada aula pendopo, bangunan seperti punden, pendopo arca Maria, candi Hati Kudus Yesus, pendopo gamelan, penginapan, tempat tinggal romo, toko suvenir, dll.

Selain itu juga terdapat candi Hati Kudus Yesus yang di dalamnya berisi arca Tuhan Yesus yang duduk dengan sangat gagah bak raja dalam ukiran Hindu-Jawa. Banyak pula untaian bunga segar yang diletakkan para peziarah seperti mawar, melati, kenanga, daun pandan, dupa wangi, kemenyan dll. Mirip tradisi kejawen orang Jawa.



Arca Tyas Dalem, Hati Kudus Yesus bergaya Hindu-Jawa.


Salah satu sudut area gereja Ganjuran.


Saya perhatikan banyak sekali orang yang bermeditasi, mati raga ditempat itu, ada banyak harapan dan permohonan yang dinaikkan oleh umat yang datang dari tempat yang jauh.

 Deretan keran air suci yang berasal dari sumber air yang telah diberkati dipadati pengunjung yang datang jauh-jauh, mereka menampung air itu dalam sebuah botol untuk dibawa pulang. Menurut cerita banyak sekali kesembuhan yang terjadi dari air suci tersebut. Percaya tidak percaya saya juga ikut mengambil air itu, sebagian saya pakai untuk mencuci wajah saya, sembari menaikkan doa syukur kepadaNya. 

Ada juga pengunjung yang tinggal berhari-hari ditempat itu, sehingga terdapat kamar mandi dengan ukuran yang luas. Ada yang percaya dengan mandi menggunakan air suci tersebut akan disembuhkan penyakitnya dan dimurnikan jiwanya. Bahkan ada juga yang meminum langsung air suci tersebut.


Demikianlah pengalamanku bertemu Yesus dalam wajah Jawa.



Sampai jumpa lagi....



Adorasi Sakramen Mahakudus dengan patung yang Jawa banget.


Buklet dalam bahasa Jawa di salah satu Gereja di Jogjakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berlayar dengan kapal KM. Labobar dari Balikpapan - Pantoloan - Bitung - Ternate (Part 1)

Pelabuhan Semayang Balikpapan Hai semuanya kali ini aku menulis tentang pengalamanku ketika pergi berlayar menuju Ternate dari kotaku Balikpapan dengan kapal KM Labobar Lah kok bisa ya naik kapal? emang liburnya berapa lama? terus kok bisa pas jadwal libur dengan jadwal kapal? Hehe akan kuceritakan asal muasal kenapa aku bisa pergi liburan dengan berlayar bersama KM. Labobar. Jadi pada akhir Januari 2019 itu aku sudah bisa libur selama 14 hari kalender (2 minggu).  Bingung kan mau libur pergi kemana. Mau pulang ke Samarinda ah terlalu sering dan sudah biasa. Gak perlu nunggu libur panjang kan aku bisa pulang ke Samarinda. Terus cek-cek lagi jadwal ke Bongao, Tawi-Tawi (Filipina) via Sandakan Malaysia kok menarik yaaa.. eh gak taunya dekat hari libur tiba-tiba di berita muncul kabar bahwa di daerah Sandakan khususnya Filipina bagian selatan lagi ricuh akibat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Filipina. Ada pengeboman rumah ibadah s

Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo, Halmahera Barat, Maluku Utara

Setelah lewat hutan-hutan eh tiba-tiba langsung disuguhi pemandangan seperti ini. Hai semua. Ketemu lagi pada postingan baru ini. Jadi ceritanya tuh waktu liburan di Jailolo di Halmahera Barat selama beberapa hari aku lanjut lagi ke kota Tobelo di Halmahera Utara. Aksesnya kalau dari Jailolo cuma bisa lewat darat.  Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo ditempuh selama empat jam. Hehehe. Kalo kata warga lokal sih itu lama banget yah perjalanan darat itu tapi kalo buatku sih oke-oke aja. Malah gak kerasa lama tuh mungkin karena baru pertama kali menempun jalan darat kali ya. Jalan raya sudah sangat bagus loh. Lebar dan beraspal. Jalanan cukup lengang. Aspal mulus dan tidak bolong-bolong. Udara juga masih segar namun sayangnya belum terpasang fasilitas lampu jalan disisi kiri dan kanan jalan. Waktu itu aku naik mobil travel dari Jailolo ke Tobelo dan kebetulan supir travelnya ya tetangga sendiri dirumah Jailolo jadi ga takut ketinggalan mobil. Ohya satu lagi

Baju Barong Tagalog Pakaian Tradisional Pria Filipina

Barong Tagalog, pakaian pria nasional di Filipina. Sejarah :  Saat pendudukan lebih dari 300 tahun oleh Spanyol di Filipina (1561-1889) penduduk pria lokal Filipina wajib memakai baju yang sekarang dinamakan Barong Tagalog.  Barong Tagalog adalah baju pria berkerah yang tidak dimasukkan kedalam celana, tidak berkantung juga transparan / tembus pandang.  Baju ini dimaksudkan untuk mencegah orang Filipina menyembunyikan sesuatu dalam kantong bajunya, entah barang curian atau senjata tajam. Spanyol mewajibkan pemakaian baju ini kepada semua orang Filipina tanpa peduli tingginya jabatan mereka di masyarakat guna menunjukkan perbedaan antara orang Spanyol yang kaya raya dengan penduduk miskin Filipina.  Setelah Filipina merdeka, presiden mereka Manuel Quezon mempopulerkan pemakaian baju ini. Sebelumnya baju ini identik dengan kelas bawah. Ketika dipopulerkan oleh presiden dengan cara selalu memakai baju ini pada acara resmi kenegaraan maka baju ini pun semaki