![]() |
| Pos jaga yg dulu sering jadi bahan cerita seram |
Rasa-rasanya hampir di semua tempat memiliki kisah horor Urban Legendnya sendiri baik di perkotaan maupun di pedesaan pasti pernah kita dengar kisah turun temurun diceritakan diantara penduduk.
Termasuk di Kota Balikpapan yang mana meskipun merupakan sebuah kota yang besar dan maju namun masih menyimpan cerita horor dan seram sampai sekarang.
Kisah ini lebih diingat oleh penduduk asli Kota Balikpapan, dan bagi pendatang sejauh ini ada yang pernah mendengar ceritanya dan ada yang sama sekali belum pernah mendengar cerita ini.
Namanya juga cerita seram jadi boleh dipercaya boleh juga tidak ya kan.
Nah lanjut ke inti tulisan ini saja ya.
Kisah ini diberi judul "Tikungan Sapulete di Jalan Minyak Balikpapan".
Alkisah dimasa lampau (kurang pasti di tahun berapa), di Jalan Minyak Balikpapan (Jl. Yoes Soedarso) terdapat pabrik pengolahan minyak dan gas bumi yang sangat besar sekali dan tentu saja sesuai hukum dimana ada gula pasti ada semut, maka dengan ukuran pabrik yang besar tentu mendatangkan banyak pekerja dari daerah lainnya di Indonesia.
Memang sejak jaman kolonial Belanda dahulu di Kilang Minyak Balikpapan sudah banyak sekali pendatang dari daerah lainnya yang datang ke Balikpapan untuk bekerja diseputaran Jalan Minyak ini.
Pada suatu malam, dimana pada saat itu terdapat acara pesta sampai larut malam terdapat seorang pekerja Kilang Minyak ini yang bernama Sapulete yang baru selesai pulang dari acara pesta tadi dan hendak menuju pulang kerumahnya.
Konon rumah tinggalnya pak Sapulete ya di perumahan milik perusahaan kilang minyak tadi dan masih berada disekitaran Jalan Minyak.
Diceritakan ketika berkendara pulang dengan naik motornya, pak Sapulete melaju sangat kencang. Memang sampai sekarang pun di Jalan Minyak kalau sudah gelap hingga malam hari sangat jarang sekali ada kendaraan melintas disini. Jadi memang cukup sepi keadaannya. Sehingga kadang pun kita tidak sadar kalau laju kendaraan sudah kencang karena saking sunyinya keadaan.
Nah karena kendaraan motor pak Sapulete ini melaju kencang dan menjadi semakin sulit dikendalikan, beliau dikisahkan larut kebablasan menabarak pagar pembatas jalan di sebuah tikungan di Jalan Minyak. Di titik tikungan dimana kejadian nahas itu terjadi akhirnya diberi nama oleh penduduk sekitar tikungan Sapulete.
Sampai sini masih masuk akal ceritanya karena memang di Jalan Minyak ruas jalannya berkelok, dan cukup sulit bagi orang yang baru pertama kali melewati Jalan Minyak ini.
Ditambah lagi cerita yang beredar bahwa Pak Sapulete ini saat pulang pesta masih dalam keadaan mabuk / tipsy lah ya istilah anak gaul sekarang. Jadi makin sulit lah kondisinya, kombinasi melaju melewati tikungan dalam keadaan mabuk memang berbahaya.
Setelah menabrak pagar pembatas jalan dengan keras, akhirnya pak Sapulete meninggal dunia ditempat karena saking kerasnya tabrakan tadi. Pagar pembatas jalan tempat kejadian nahas itu kebetulan dekat dengan pintu gate masuk ke dalam pabrik pengolahan minyak tadi.
Kebetulan tempat kerja semasa pak Sapulete hidup ini berada di dekat pintu masuk gate tersebut, sehingga beredar rumor di malam-malam tertentu di ruangan kantor pak Sapulete bekerja kadang telepon berdering sendiri dan jika diangkat tidak akan ada suara dari seberang telepon sana.
Bahkan dikisahkan terdengar suara dari mesin tik sedang digunakan dari dalam ruangan kerja pak Sapulete pada malam-malam tertentu. Ada yang berpendapat hal ini terjadi lantaran arwah pak Sapulete seakan belum menyadari bahwa ia telah tiada. Jadi masih kembali beraktifitas bekerja di ruangannya.
Terkadang saya mengirimkan doa untuk arwah Pak Sapulete untuk ketenangan arwahnya terlepas benar tidaknya kisah ini. Saya rasa tidak ada salahnya kan berbuat sesuatu yang baik.
Horornya lagi kalau malam di Jalan Minyak ini lampu penerangan jalannya tidak banyak, ada beberapa spot yang memang kurang pencahayaannya ditambah masih banyak sekali pepohonan tinggi dan besar yang bayangannya menutupi cahaya lampu penerangan jalan.
Inilah alasan sebagian warga Kota Balikpapan lebih memilih memutar jalan lewat perkotaan daripada potong kompas lewat Jalan Minyak kalau malam hari, karena lebih aman, lebih banyak keramaian, dan lebih terang lampu jalan di kota. Padahal sangat memakan waktu loh kalau memutar.
Nah bagi pendatang yang tidak tau cerita ini sih kadang cuek aja melintas Jalan Minyak ini dengan tenang, termasuk saya pada awalnya juga tidak tau kisah ini jadi saya kadang memilih lewat Jalan Minyak.
Kalaupun sangat terpaksa lewat Jalan Minyak maka tak lupa saya selalu membaca doa-doa selama melintasi Jalan Minyak. Emang terkesan lebay, tapi itulah yang memang saya lakukan. Meminta pertolongan dari Yang Maha Kuasa.
Setelah mendengar kisah ini, maka sejak saat itu kalau saya sendirian lebih baik memutar jalan saja ke kota mencari aman.
Ada satu lagi kisah tambahan tentang tikungan Sapulete ini, di sekitar titik tikungan nahas itu terdapat bangunan Pos Security ukuran kecil namun berlantai dua (2). Dari dulu sudah terlantar kondisinya, tidak ditempati, banyak sampah di dalamnya, penuh ukiran dan tulisan grafiti jorok, dirambati tanaman menjalar, dan banyak nyamuknya.
![]() |
| Ini dia pos security sebelum direnovasi, siang hari pun terasa sunyi creepy tak berani dekat-dekat |
Kini di tahun 2026, kondisi pos security tadi sudah jauuuuh berbeda. Tembok pos securitynya sudah dicat ulang, bekas coretan grafiti yang jorok sudah tertutup cat, pintu masuknya sudah dikunci, semak-semak disekitar pos security tadi sudah dibabat habis. Namun kesan sepi yang aneh masih terasa sekali meskipun di siang hari.
Konon kabarnya tidak ada security yang betah berjaga lama-lama di pos ini, palingan hanya mampir sebentar kemudian lanjut patroli lagi keliling area.
Memang area Jalan Minyak ini sejak jaman kolonial sudah banyak kejadian kecelakaan, ditambah lagi perang dunia ke II yang memakan korban jiwa disekitarnya, dan semua hal itu tadi makin menambah bumbu-bumbu kisah horor Jalan Minyak.
Sekarang di Tahun 2026, kalau kita perhatikan dengan teliti rasanya hampir semua kompleks bangunan/gedung tua di dalam pabrik yang berbatasan dengan ruas Jalan Minyak sudah dirobohkan diganti dengan peralatan canggih dan baru.
Demikian kisah urban legend Tikungan Sapulete ini, boleh dipercaya boleh juga tidak. Bagaimana menurut kalian?
![]() |
| Pepohonan ini kalau malam menghalangi cahaya lampu penerangan Jalan Minyak |





Komentar
Posting Komentar