Langsung ke konten utama

GPIB Sion Jakarta, Gereja Protestan pertama di Jakarta

Pertama kali tau tentang gedung Gereja GPIB Sion ini dari sebuah buku tentang Gereja tua yg ada di sekitar Jakarta.


Entah karena sebuah kebetulan adik kandung saya menikah di Gereja ini.  Calon suaminya dulu waktu kecil beribadah di Gereja tsb. Orangtua nya kenal dengan jemaat lama disana sehingga adikku dan calon suaminya memutuskan menikah di Gereja tsb.


Sebagai anggota Majelis GPIB, alm papa saya sebelum meninggal berpesan ingin supaya anak gadisnya menikah di Gereja GPIB karena kerinduan hati papa melihat supaya pernikahan anaknya dilayani di Gereja GPIB. 


Maklum saja karena anak-anak papa lainnya menikah tidak digereja GPIB. Saya sebagai anak pertama malah memilih keluar dari GPIB untuk menjadi umat Gereja Katolik sehingga saya menikah juga di Gereja Katolik. Adik laki-laki saya juga sama, ia menikah di Gereja GKJ dengan istrinya.


Mendengar kabar rencana pernikahan adik saya yg perempuan saya senang karena bisa liat interior gedung Gereja GPIB Sion di dalam nya seperti apa. Satu sisi juga sedih sekali, papa meninggal beberapa bulan sebelum hari pernikahan itu.


Gedung Gereja GPIB Sion ini letaknya di tengah kota Jakarta. Dibangun tanggal 11 Juli 1692 selesai 23 Oktober 1695 sejak Jakarta masih bernama Batavia oleh pihak Belanda. Sampai sekarang gedung Gereja GPIB Sion ini masih dipergunakan untuk keperluan beribadah.


Gedung Gereja GPIB Sion ini adalah gedung Gereja paling tua di kota Jakarta loo.


Awalnya Gereja ini untuk melayani kaum Portugis dan pribumi Kristen. Dan gereja ini sebelumnya bernama Portugeesche Buitenkerk hingga Indonesia merdeka maka Gereja ini dikelola oleh GPIB dan diberi nama Gereja Sion.


Masuk ke dalam gedung serasa kembali ke jaman penjajahan Belanda. Interior gedung sungguh unik dan banyak ukiran kayu yg sangat rumit. Sepintas mirip seperti pemandangan gedung Gereja di Eropa.


Di Gereja GPIB Sion ini masih punya Orgel kuno dengan pipa pipa besar tempat keluarnya suara. Namun sayangnya saat adikku menikah ibadahnya tidak memakai Orgel tsb.



Ukiran kayu yg cantik seperti di Eropa



Altar utama Gereja


My little girl



With the boys



Sesaat setelah acara selesai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berlayar dengan kapal KM. Labobar dari Balikpapan - Pantoloan - Bitung - Ternate (Part 1)

Pelabuhan Semayang Balikpapan Hai semuanya kali ini aku menulis tentang pengalamanku ketika pergi berlayar menuju Ternate dari kotaku Balikpapan dengan kapal KM Labobar Lah kok bisa ya naik kapal? emang liburnya berapa lama? terus kok bisa pas jadwal libur dengan jadwal kapal? Hehe akan kuceritakan asal muasal kenapa aku bisa pergi liburan dengan berlayar bersama KM. Labobar. Jadi pada akhir Januari 2019 itu aku sudah bisa libur selama 14 hari kalender (2 minggu).  Bingung kan mau libur pergi kemana. Mau pulang ke Samarinda ah terlalu sering dan sudah biasa. Gak perlu nunggu libur panjang kan aku bisa pulang ke Samarinda. Terus cek-cek lagi jadwal ke Bongao, Tawi-Tawi (Filipina) via Sandakan Malaysia kok menarik yaaa.. eh gak taunya dekat hari libur tiba-tiba di berita muncul kabar bahwa di daerah Sandakan khususnya Filipina bagian selatan lagi ricuh akibat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Filipina. Ada pengeboman rumah ibadah s

Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo, Halmahera Barat, Maluku Utara

Setelah lewat hutan-hutan eh tiba-tiba langsung disuguhi pemandangan seperti ini. Hai semua. Ketemu lagi pada postingan baru ini. Jadi ceritanya tuh waktu liburan di Jailolo di Halmahera Barat selama beberapa hari aku lanjut lagi ke kota Tobelo di Halmahera Utara. Aksesnya kalau dari Jailolo cuma bisa lewat darat.  Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo ditempuh selama empat jam. Hehehe. Kalo kata warga lokal sih itu lama banget yah perjalanan darat itu tapi kalo buatku sih oke-oke aja. Malah gak kerasa lama tuh mungkin karena baru pertama kali menempun jalan darat kali ya. Jalan raya sudah sangat bagus loh. Lebar dan beraspal. Jalanan cukup lengang. Aspal mulus dan tidak bolong-bolong. Udara juga masih segar namun sayangnya belum terpasang fasilitas lampu jalan disisi kiri dan kanan jalan. Waktu itu aku naik mobil travel dari Jailolo ke Tobelo dan kebetulan supir travelnya ya tetangga sendiri dirumah Jailolo jadi ga takut ketinggalan mobil. Ohya satu lagi

Baju Barong Tagalog Pakaian Tradisional Pria Filipina

Barong Tagalog, pakaian pria nasional di Filipina. Sejarah :  Saat pendudukan lebih dari 300 tahun oleh Spanyol di Filipina (1561-1889) penduduk pria lokal Filipina wajib memakai baju yang sekarang dinamakan Barong Tagalog.  Barong Tagalog adalah baju pria berkerah yang tidak dimasukkan kedalam celana, tidak berkantung juga transparan / tembus pandang.  Baju ini dimaksudkan untuk mencegah orang Filipina menyembunyikan sesuatu dalam kantong bajunya, entah barang curian atau senjata tajam. Spanyol mewajibkan pemakaian baju ini kepada semua orang Filipina tanpa peduli tingginya jabatan mereka di masyarakat guna menunjukkan perbedaan antara orang Spanyol yang kaya raya dengan penduduk miskin Filipina.  Setelah Filipina merdeka, presiden mereka Manuel Quezon mempopulerkan pemakaian baju ini. Sebelumnya baju ini identik dengan kelas bawah. Ketika dipopulerkan oleh presiden dengan cara selalu memakai baju ini pada acara resmi kenegaraan maka baju ini pun semaki