Langsung ke konten utama

Secuil jejak Gereja Katolik di pulau Halmahera

Ada sedikit sekali jejak peninggalan Iman Katolik di Halmahera, padahal menurut beberapa sumber dulunya orang yang pertama kali menerima agama Katolik di nusantara ya orang Halmahera. 

Dimulai dari kedatangan bangsa Spanyol-Portugis di Ternate pada abad 16 sekitar tahun 1550an untuk mencari dunia baru dan sumber rempah-rempah yang mana dalam rombongan tersebut terdapat beberapa kaum rohaniwan Katolik.

Agama Katolik tidak serta merta diterima begitu saja oleh penduduk setempat. Banyak lika-liku terlebih konflik antara Spanyol-Portugis, sultan Ternate, sultan Tidore sehingga penyebaran agama Katolik pun tidak mulus.

Fyi, Santo Fransiskus Xaverius (Francis Xavier) pernah loo menginjakkan kaki di Halmahera sebelum berangkat ke Ambon.

Sejak kepergian Spanyol-Portugis yg digantikan oleh Belanda, maka perlahan misi Katolik yg sebelumnya sudah ada diubah menjadi umat Kristen Protestan (Calvinist) oleh Zending Belanda. Zending adalah sebuah organisasi keagaamaan Protestan yang tentu saja menyebarkan agama Kristen Protestan. Ada banyak umat Katolik yg beralih iman tak cuma di Halmahera, di daerah lainnya pun juga.

Mulai dari abad ke17 sampai saat ini di Halmahera lebih mudah dijumpai kelompok masyarakat Kristen Protestan. So, bagi diriku pribadi dapat menjumpai Gereja Katolik disini merupakan sebuah kerinduan akan kenangan masa lampau saat peristiwa dimana Halmahera merupakan wilayah Spanyol-Portugis.


Bangunan Gereja.


Altar untuk mengenang Romo Paroki yang barusan wafat.


Foto bersama Enca, Sepupu ku


Selamat jalan Romo.


Bagian dalam Gereja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berlayar dengan kapal KM. Labobar dari Balikpapan - Pantoloan - Bitung - Ternate (Part 1)

Pelabuhan Semayang Balikpapan Hai semuanya kali ini aku menulis tentang pengalamanku ketika pergi berlayar menuju Ternate dari kotaku Balikpapan dengan kapal KM Labobar Lah kok bisa ya naik kapal? emang liburnya berapa lama? terus kok bisa pas jadwal libur dengan jadwal kapal? Hehe akan kuceritakan asal muasal kenapa aku bisa pergi liburan dengan berlayar bersama KM. Labobar. Jadi pada akhir Januari 2019 itu aku sudah bisa libur selama 14 hari kalender (2 minggu).  Bingung kan mau libur pergi kemana. Mau pulang ke Samarinda ah terlalu sering dan sudah biasa. Gak perlu nunggu libur panjang kan aku bisa pulang ke Samarinda. Terus cek-cek lagi jadwal ke Bongao, Tawi-Tawi (Filipina) via Sandakan Malaysia kok menarik yaaa.. eh gak taunya dekat hari libur tiba-tiba di berita muncul kabar bahwa di daerah Sandakan khususnya Filipina bagian selatan lagi ricuh akibat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Filipina. Ada pengeboman rumah ibadah s

Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo, Halmahera Barat, Maluku Utara

Setelah lewat hutan-hutan eh tiba-tiba langsung disuguhi pemandangan seperti ini. Hai semua. Ketemu lagi pada postingan baru ini. Jadi ceritanya tuh waktu liburan di Jailolo di Halmahera Barat selama beberapa hari aku lanjut lagi ke kota Tobelo di Halmahera Utara. Aksesnya kalau dari Jailolo cuma bisa lewat darat.  Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo ditempuh selama empat jam. Hehehe. Kalo kata warga lokal sih itu lama banget yah perjalanan darat itu tapi kalo buatku sih oke-oke aja. Malah gak kerasa lama tuh mungkin karena baru pertama kali menempun jalan darat kali ya. Jalan raya sudah sangat bagus loh. Lebar dan beraspal. Jalanan cukup lengang. Aspal mulus dan tidak bolong-bolong. Udara juga masih segar namun sayangnya belum terpasang fasilitas lampu jalan disisi kiri dan kanan jalan. Waktu itu aku naik mobil travel dari Jailolo ke Tobelo dan kebetulan supir travelnya ya tetangga sendiri dirumah Jailolo jadi ga takut ketinggalan mobil. Ohya satu lagi

Baju Barong Tagalog Pakaian Tradisional Pria Filipina

Barong Tagalog, pakaian pria nasional di Filipina. Sejarah :  Saat pendudukan lebih dari 300 tahun oleh Spanyol di Filipina (1561-1889) penduduk pria lokal Filipina wajib memakai baju yang sekarang dinamakan Barong Tagalog.  Barong Tagalog adalah baju pria berkerah yang tidak dimasukkan kedalam celana, tidak berkantung juga transparan / tembus pandang.  Baju ini dimaksudkan untuk mencegah orang Filipina menyembunyikan sesuatu dalam kantong bajunya, entah barang curian atau senjata tajam. Spanyol mewajibkan pemakaian baju ini kepada semua orang Filipina tanpa peduli tingginya jabatan mereka di masyarakat guna menunjukkan perbedaan antara orang Spanyol yang kaya raya dengan penduduk miskin Filipina.  Setelah Filipina merdeka, presiden mereka Manuel Quezon mempopulerkan pemakaian baju ini. Sebelumnya baju ini identik dengan kelas bawah. Ketika dipopulerkan oleh presiden dengan cara selalu memakai baju ini pada acara resmi kenegaraan maka baju ini pun semaki