Langsung ke konten utama

Suka duka memiliki adik seorang awak kabin.

Kumpul bersama.

Ada beberapa teman yang sering bertanya bagaimana rasanya memiliki anggota keluarga seorang kru penerbangan? Susah-susah gampang menjawabnya. Kebetulan adik perempuan satu-satunya dikeluargaku seorang awak kabin dan cuman dia yang terpisah paling jauh dari orangtua.
Kalau lagi pakai seragam, etikanya memang tidak boleh sembarangan berbicara dengan orang lain selain kru.

Ada plus-minusnya sih.

Nih ya beberapa poin minus nya dulu :

a. Terpisah jarak dan waktu, yap sudah jelas karena dia tinggalnya di Jakarta karena pusat dari penerbangan domestik. Kalau mau bertemu susah sekali. Meskipun saya berada di Jakarta belum tentu bisa bertemu karena dia juga sibuk terbang kesana kemari. Sehingga ketika ia mendapat jadwal mendarat dan menginap semalam di Balikpapan barulah kita dapat bertemu itupun biasanya cuma saya seorang yang bertemu dengan dia. Orangtua dan adik-adik  belum tentu dapat bertemu karena mereka tinggalnya di Samarinda. Butuh waktu dan persiapan lagi menuju ke Balikpapan. 

b. Susah untuk berkomunikasi, ketika menelpon dia namun tidak diangkat-angkat bisa jadi ia sedang bertugas atau sedang dalam kondisi tidak mungkin mengangkat telepon sehingga mau tidak mau berpesan instan dan itupun suka lama sekali baru dibalas maklum aja sih.

c. Susah liburan bersama. Nah kalau ini sudah pasti. Bagaimana bisa mau liburan antara saudara kalau masing-masing dari kita punya kesibukan berbeda-beda. Lagian seorang kru tidak akan pernah bisa diijinkan cuti dihari-hari besar tanggal merah (biasa disebut peak season). Terus kalau dapat jatah cuti biasanya ia akan pulang kampung ke Samarinda untuk kumpul-kumpul.

d. Hari raya susah sekali kumpul lengkap. Karena ia tidak dapat jatah cuti sehingga yang ada hanya berharap semoga di hari raya ia tidak dapat jatah terbang. Sehingga bisa pulang kampung meskipun hanya dapat satu malam saja. Pernah tuh ia berangkat dari Jakarta dan tiba di Balikpapan siang hari dan besok paginya harus ke Jakarta lagi. Perjuangan bukan? Belum lagi adik yang satunya yang juga tinggal di Jogja harus menyesuaikan kedatangan adikku yang kru pesawat. Jangan sampai hari raya nanti tidak lengkap formasinya.

e. Jarang sekali bisa cerita-cerita konyol seperti dimasa lalu. Yah agak susah sih kalau mau cerita-cerita nyampah kayak dulu lagi, senang-senang seperti nonton bareng, makan bareng, nemenin belanja dll. Rindu? ya pastinya. Begitu ketemu makanya selalu dimanfaatin untuk cerita-cerita yang penting-penting saja. Kasian juga dianya capek terbang dan butuh istirahat juga.


Tadi kan sudah poin minusnya nah poin plusnya adalah :

a. Bisa dititipin sesuatu hal yang unik dari berbagai daerah yang dia kunjungi. Apalagi kalau kena jadwal menginap dikota lain. Biasanya dibawain oleh-oleh khas kota tsb. Paling suka nitip kain khas daerah lain, unik kan.

b. Sering dibawain oleh-oleh. Biasanya sebelum terbang ke Balikpapan ia sudah membeli terlebih dahulu oleh-oleh dari kota lain. Jadi begitu ketemu di Balikpapan langsung dikasih.

c. Sering dikasi produk skin care nya dia yang ga kepake karena alasan ga cocok, beli kebanyakan atau memang sengaja dibeliin buat kita.
Lungsuran yang tidak mungkin bisa aku pakai.

d. Bisa numpang bobo di hotel, yap. Kalau dia mendarat dan menginap di Balikpapan ia selalu memberitahukan sehingga aku sempetin dateng meskipun sering larut malam. Keesokan paginya ia sudah harus pergi lagi ke kota lainnya.

Pagi hari harus sudah berangkat ke bandara.


e. Numpang sarapan di hotel, haha yang ini sudah sering. Apalagi kalau dini hari harus sudah cabut dari hotel biasanya ia tidak pernah mengambil jatah sarapannya. Jadinya aku deh yang memakai fasilitas sarapannya. Hihihi perbaikan gizi gitu sebelum berangkat kerja.

Masih sepi restorannya.

Kesampaian makan Sushi

entahlah ini apa namanya lupa saya.

f. Ikutan nimbrung dengan kru lainnya. Yap kalau pas kena dengan kru yang ramah enak tuh.


Kurang lebih seperti itulah gambarannya. Ada suka-dukanya. Meskipun ia sendiri anak perempuan dalam keluarga namun anti manja. Sendirian di kota orang tidak mudah loh untuk mengurus diri sendiri, harus pintar-pintar menjaga kondisi badan agar jangan sampai jatuh sakit. Karena kalau sakit pastinya susah sekali diurus karena jarak yang jauh.

Sehat terus ya disana, sampai jumpa lagi dilain waktu.

Sehat terus di tempat rantau ya.

Sampai jumpa lagi, hati-hati ya dijalan.

Kalau sedang mendarat di BPN aku sempetin datang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berlayar dengan kapal KM. Labobar dari Balikpapan - Pantoloan - Bitung - Ternate (Part 1)

Pelabuhan Semayang Balikpapan Hai semuanya kali ini aku menulis tentang pengalamanku ketika pergi berlayar menuju Ternate dari kotaku Balikpapan dengan kapal KM Labobar Lah kok bisa ya naik kapal? emang liburnya berapa lama? terus kok bisa pas jadwal libur dengan jadwal kapal? Hehe akan kuceritakan asal muasal kenapa aku bisa pergi liburan dengan berlayar bersama KM. Labobar. Jadi pada akhir Januari 2019 itu aku sudah bisa libur selama 14 hari kalender (2 minggu).  Bingung kan mau libur pergi kemana. Mau pulang ke Samarinda ah terlalu sering dan sudah biasa. Gak perlu nunggu libur panjang kan aku bisa pulang ke Samarinda. Terus cek-cek lagi jadwal ke Bongao, Tawi-Tawi (Filipina) via Sandakan Malaysia kok menarik yaaa.. eh gak taunya dekat hari libur tiba-tiba di berita muncul kabar bahwa di daerah Sandakan khususnya Filipina bagian selatan lagi ricuh akibat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Filipina. Ada pengeboman rumah ibadah s

Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo, Halmahera Barat, Maluku Utara

Setelah lewat hutan-hutan eh tiba-tiba langsung disuguhi pemandangan seperti ini. Hai semua. Ketemu lagi pada postingan baru ini. Jadi ceritanya tuh waktu liburan di Jailolo di Halmahera Barat selama beberapa hari aku lanjut lagi ke kota Tobelo di Halmahera Utara. Aksesnya kalau dari Jailolo cuma bisa lewat darat.  Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo ditempuh selama empat jam. Hehehe. Kalo kata warga lokal sih itu lama banget yah perjalanan darat itu tapi kalo buatku sih oke-oke aja. Malah gak kerasa lama tuh mungkin karena baru pertama kali menempun jalan darat kali ya. Jalan raya sudah sangat bagus loh. Lebar dan beraspal. Jalanan cukup lengang. Aspal mulus dan tidak bolong-bolong. Udara juga masih segar namun sayangnya belum terpasang fasilitas lampu jalan disisi kiri dan kanan jalan. Waktu itu aku naik mobil travel dari Jailolo ke Tobelo dan kebetulan supir travelnya ya tetangga sendiri dirumah Jailolo jadi ga takut ketinggalan mobil. Ohya satu lagi

Baju Barong Tagalog Pakaian Tradisional Pria Filipina

Barong Tagalog, pakaian pria nasional di Filipina. Sejarah :  Saat pendudukan lebih dari 300 tahun oleh Spanyol di Filipina (1561-1889) penduduk pria lokal Filipina wajib memakai baju yang sekarang dinamakan Barong Tagalog.  Barong Tagalog adalah baju pria berkerah yang tidak dimasukkan kedalam celana, tidak berkantung juga transparan / tembus pandang.  Baju ini dimaksudkan untuk mencegah orang Filipina menyembunyikan sesuatu dalam kantong bajunya, entah barang curian atau senjata tajam. Spanyol mewajibkan pemakaian baju ini kepada semua orang Filipina tanpa peduli tingginya jabatan mereka di masyarakat guna menunjukkan perbedaan antara orang Spanyol yang kaya raya dengan penduduk miskin Filipina.  Setelah Filipina merdeka, presiden mereka Manuel Quezon mempopulerkan pemakaian baju ini. Sebelumnya baju ini identik dengan kelas bawah. Ketika dipopulerkan oleh presiden dengan cara selalu memakai baju ini pada acara resmi kenegaraan maka baju ini pun semaki