Langsung ke konten utama

Jesselton Point, Dermaga Kota Kinabalu, Sabah-Malaysia


Jesselton Point


Kota Kinabalu punya pelabuhan yang sejak masa lampau memang sudah ramai dan ketika Inggris datang daerah ini berkembang pesat.


Pemerintah Malaysia melanjutkan pembangunan pelabuhan yang sudah eksis ini menjadi sebuah tempat menarik untuk dikunjungi meskipun kita enggak pergi ke pulau Tunku Abdul Samad dari pelabuhan ini.


Himbauan untuk tidak bertransaksi diluar loket resmi


Nama tempat itu ialah Jesselton Point tempat dimana kita menyebrang ke Pulau Tunku Abdul Samad. Kompleks pulau-pulau wisata di pantai utara Sabah. 


Jadi di Jesselton Point ini ada banyak agen-agen wisata yang menjual paket-paket liburan di pulau Tunku Abdul Samad. Mereka menawarkan penginapan, kapal menyebrang dan paket wisata lainnya. Ada juga stand penjual makanan, penjual suvenir, penjual keperluan diving, snorkling dll.

Entahlah loket apa ini


Ada banyak turis asing di tempat ini dan semuanya pengen menyebrang ke pulau Tunku Abdul Samad.
Mirip di Bali lah pemandangannya.

Cuaca dan iklim di Kota Kinabalu sama persis kayak di Kalimantan, panas dan lembab udaranya. Pas dipinggir laut juga. Makin lah hawanya gerah pengen buka baju rasanya.

Panas banget kan


Pelabuhan Jesselton, sistem bendera gitu kalau mau berlayar.


Panas kan cuacanya jadinya ga ada yang mau duduk disini siang-siang




Stand penjual makanan, apa gak gosong tuh siang-siang duduk diluar?



Dermaga kapal yang akan membawa kalian ke pulau-pulau disekitarnya.



Bahkan ada lapangan futsal loh disini, haha.


Wifi gratis guys.



Salah satu agen penjual paket wisata.


Turis buka baju ughhh pengen minta dipeluk.



Oppa Korea lagi nunggu jemputan


Peta Sabah-Malaysia


Kalau kalian lagi di Kota Kinabalu, Sabah-Malaysia jangan lupa mampir ke Jesselton Point ya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berlayar dengan kapal KM. Labobar dari Balikpapan - Pantoloan - Bitung - Ternate (Part 1)

Pelabuhan Semayang Balikpapan Hai semuanya kali ini aku menulis tentang pengalamanku ketika pergi berlayar menuju Ternate dari kotaku Balikpapan dengan kapal KM Labobar Lah kok bisa ya naik kapal? emang liburnya berapa lama? terus kok bisa pas jadwal libur dengan jadwal kapal? Hehe akan kuceritakan asal muasal kenapa aku bisa pergi liburan dengan berlayar bersama KM. Labobar. Jadi pada akhir Januari 2019 itu aku sudah bisa libur selama 14 hari kalender (2 minggu).  Bingung kan mau libur pergi kemana. Mau pulang ke Samarinda ah terlalu sering dan sudah biasa. Gak perlu nunggu libur panjang kan aku bisa pulang ke Samarinda. Terus cek-cek lagi jadwal ke Bongao, Tawi-Tawi (Filipina) via Sandakan Malaysia kok menarik yaaa.. eh gak taunya dekat hari libur tiba-tiba di berita muncul kabar bahwa di daerah Sandakan khususnya Filipina bagian selatan lagi ricuh akibat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Filipina. Ada pengeboman rumah ibadah s

Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo, Halmahera Barat, Maluku Utara

Setelah lewat hutan-hutan eh tiba-tiba langsung disuguhi pemandangan seperti ini. Hai semua. Ketemu lagi pada postingan baru ini. Jadi ceritanya tuh waktu liburan di Jailolo di Halmahera Barat selama beberapa hari aku lanjut lagi ke kota Tobelo di Halmahera Utara. Aksesnya kalau dari Jailolo cuma bisa lewat darat.  Perjalanan darat dari Jailolo ke Tobelo ditempuh selama empat jam. Hehehe. Kalo kata warga lokal sih itu lama banget yah perjalanan darat itu tapi kalo buatku sih oke-oke aja. Malah gak kerasa lama tuh mungkin karena baru pertama kali menempun jalan darat kali ya. Jalan raya sudah sangat bagus loh. Lebar dan beraspal. Jalanan cukup lengang. Aspal mulus dan tidak bolong-bolong. Udara juga masih segar namun sayangnya belum terpasang fasilitas lampu jalan disisi kiri dan kanan jalan. Waktu itu aku naik mobil travel dari Jailolo ke Tobelo dan kebetulan supir travelnya ya tetangga sendiri dirumah Jailolo jadi ga takut ketinggalan mobil. Ohya satu lagi

Baju Barong Tagalog Pakaian Tradisional Pria Filipina

Barong Tagalog, pakaian pria nasional di Filipina. Sejarah :  Saat pendudukan lebih dari 300 tahun oleh Spanyol di Filipina (1561-1889) penduduk pria lokal Filipina wajib memakai baju yang sekarang dinamakan Barong Tagalog.  Barong Tagalog adalah baju pria berkerah yang tidak dimasukkan kedalam celana, tidak berkantung juga transparan / tembus pandang.  Baju ini dimaksudkan untuk mencegah orang Filipina menyembunyikan sesuatu dalam kantong bajunya, entah barang curian atau senjata tajam. Spanyol mewajibkan pemakaian baju ini kepada semua orang Filipina tanpa peduli tingginya jabatan mereka di masyarakat guna menunjukkan perbedaan antara orang Spanyol yang kaya raya dengan penduduk miskin Filipina.  Setelah Filipina merdeka, presiden mereka Manuel Quezon mempopulerkan pemakaian baju ini. Sebelumnya baju ini identik dengan kelas bawah. Ketika dipopulerkan oleh presiden dengan cara selalu memakai baju ini pada acara resmi kenegaraan maka baju ini pun semaki